Kenaikan Harga Minyak Tak akan Picu Resesi Ekonomi Dunia
Jumat, 20 Agu 2004 13:37 WIB
Jakarta -
Kenaikan harga minyak dunia yang telah mendekati level US$ 50 per barel diyakini tidak akan menyebabkan resesi ekonomi dunia. Pasalnya, hingga kini peningkatan biaya yang dapat memicu inflasi (cost push inflation) belum terlihat. Padahal, faktor tersebut yang dikhawatirkan dapat mendorong resesi ekonomi.Demikian diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro, dalam konferensi persnya di Departemen ESDM, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (20/8/2004)."Saya lihat cost push inflation yang mendorong resesi belum terjadi. Resesi terjadi kalau ada inflasi dan inflasi terjadi kalau ada kenaikan harga. Kenaikan harga terjadi kalau peningkatan produksi. Sementara, saat ini cost push inflation belum terlihat," kata Purnomo.Menurut dia, kondisi perekonomian Indonesia saat ini relatif stabil karena belum terlihatnya ada kenaikan suku bunga. Dari sisi moneter, juga belum terjadi peningkatan harga. "Makanya kalau nanti (suku bunga) naik terus, akan menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa," imbuhnya.Namun demikian, Purnomo mengaku prihatin dengan peningkatan harga minyak yang cukup signifikan. Menurut dia, anggota Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) terus melakukan komunikasi intensif agar dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk meredam kenaikan harga minyak pada sidang OPEC di Wina, Austria, 14 September mendatang."Saat itu, kita akan bertemu tidak hanya dengan seluruh anggota OPEC tapi juga negara-negara non-OPEC serta produsen minyak besar. Saya berharap harga jangan naik lagi. Kita akan melakukan yang terbaik untuk mencegah kenaikan harga," kata Purnomo, yang juga menjabat Presiden OPEC.Ketika ditanya sampai kapan kenaikan minyak akan terus berlangsung, Purmomo mengaku tidak tahu. Ia beralasan, kenaikan harga yang terjadi saat ini di luar jangkauan OPEC. "Prediksi OPEC hanya dilakukan berdasarkan faktor-faktor fundamental. Kalau ada faktor di luar itu, sulit bagi OPEC untuk melihat dampaknya terhadap harga," jawab dia.Ia mencontohkan, referendum di Venezuela yang memutuskan Hugo Chavez tetap sebagai presiden awalnya diperkirakan dapat menyebabkan harga minyak turun. Namun ternyata pernyataan Amerika Serikat yang menyatakan kurang berkenan dengan hasil referendum tersebut malah memicu harga minyak kembali naik. "Ini pengaruh psikologis yang bisa terjadi setiap saat," imbuhnya.Sebagaiman diketahui, kisaran harga minyak OPEC saat ini berada di level US$ 22-28 per barel. Namun belakangan ini, harga minyak OPEC telah menembus level US$ 42 per barel. Sementara, harga minyak dunia lebih menggila dan kini berada di level US$ 48 per barel.
(ani/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































