Bermasalah, Indef Desak Revisi Total RAPBN 2005
Jumat, 20 Agu 2004 14:21 WIB
Jakarta - Indef menyarankan pemerintahan baru mendatang melakukan revisi total RAPBN 2005. Hal itu perlu dilakukan karena RAPBN 2005 dihinggapi 4 masalah yakni spekulatif, kontraditif, kontraktif dan konservatif.Demikian paparan Indef mengenai RAPBN 2005 yang disampaikan oleh tim Indef yakni Iman Sugema, Fadel Hasan dan Aviliani dalam jumpa pers yang diselenggarakan Indef di Kampus Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (20/8/2004).Disebutkan, RAPBN memiliki sifat spekulatif karena bertentangan dengan kecenderungan yang terjadi. Asumsi dan target pada umumnya sangat sulit dibuat secara akurat karena variabal-variabel ekonomi bersifat dinamis. Satu contoh asumsi spekulatif adalah suku bunga SBI sebesar 6,5 persen dan harga minyak US$ 24 per barel. Untuk suku bunga SBI sebesar 6,5 persen dinilai spekulatif karena tidak sesuai dengan trend yang terjadi dalam periode satu tahun ke depan. Sedangkan harga minyak yang ditetapkan US$ 24 per barel sangat jauh dari harga minyak saat ini yang mencapai US$ 46 per barel.Terkait anggaran yang bersifat kontradiktif, Indef menilai ada 3 faktor yang menyebabkannya yakni ketidakkonsistenan antara asumsi suku bunga SBI dan inflasi, antara tax reform dan tax ratio serta antara asumsi pertumbuhan ekonomi dan pengetatan anggaran. Sedangkan kebijakan RAPBN 2005 masih sama dengan tahun 2004 yang kontraktif karena ternyata dana yang ditarik dari masyarakat lebih besar dibandingkan yang dikembalikan kepada masyarakat. Selain itu, anggaran juga bersikap konservatif karena pemerintah masih bertumpu pada upaya untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan keberlanjutan fiskal secara ketat dengan mengorbankan fungsi yang lebih penting yakni memberikan stimulus. Konservatisme RAPBN 2005 nampak pada target indikator makro ekonomi yang hendak dicapai seperti inflasi 5,5 persen, defisit 0,8 persen dan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen.
(qom/)











































