Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sumbangan beras, rokok hingga belanja untuk perumahan dan pendidikan masih menjadi penyumbang utama kemiskinan. Jika pengeluaran salah satu komoditi itu ditekan maka, jumlah kemiskinan bisa dikurangi.
"Kalau kampanye anti rokok bisa dijalanin itu bisa mengurangi kemiskinian juga, karena rokok termasuk pengeluaran walau tak ada kalori," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin (2/7/2012).
BPS mencatat selama Maret 2011-Maret 2012 nilai garis kemiskinan naik 6,4% yaitu dari Rp 233.740 per kapita per bulan menjadi Rp 248.707 per kapita per bulan. Pengeluaran ini untuk memenuhi 2100 kkal per kapita per bulan. Jika dihitung satu keluarga ada lima orang maka kurang lebih nilai pengeluaran batas garis kemiskinan adalah Rp 1,25 juta per bulan per keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, gula pasir, daging ayam ras, tempe, tahu, mie instan, bawang merah, dan cabai merah. Sedangkan, komoditi yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, mie instan, tempe, bawang merah, tahu, dengan tambahan kopi, dan cabai rawit.
Komoditi bukan makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan adalah biaya perumahan, pendidikan, angkutan, listrik, dan bensin, sedangkan di perdesaan sendiri adalah biaya perumahan, listrik, kayu bakar, bensin, dan pendidikan.
Pada periode Maret 2011โMaret 2012, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. (hen/dnl)











































