Misalnya Eni, seorang pedagang di Pasar Kramat Jati mengungkapkan kekesalannya karena pemerintah belum juga melakukan tambahan kuota impor daging sapi.
"Sekarang harga naik, modalnya aja hampir Rp 70.000, kita jual Rp 70.000, kita gak ngambil untung, cuma bela-belain langganan aja, kalau kita jual Rp 75.000, pembeli nyerang nggak ada yang beli, ini sudah hampir sebulan yang lalu. Ini karena daging impor belum turun, jadi barangnya kosong," ungkap Eni kepada detikFinance di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Rabu (4/7/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan perusahaan pemasok daging yang menjadi langganannya sudah pernah melakukan demo ke Menteri Pertanian agar segera menurunkan stok daging impornya. "PT kita sudah demo itu ke Menteri Pertanian, sekitar 1 bulan lalu, tapi nggak ditanggepin, katanya sih nanti ada demo lagi, impor sekarang susah," tambahnya.
Di tempat yang sama, Edi seorang pedagang daging lain menjelaskan dalam hal ini pemerintah tidak pernah memikirkan kepentingan rakyat. "Makanya pemerintah jangan ngurusin yang korupsi melulu, urusin rakyat. Impornya turunin (tambah)," terang Edi.
Edi mengaku tidak bisa berbuat apa-apa dengan naiknya harga daging dari pemasok ini. Menurutnya pada saat bulan puasa pun harga ini akan kembali naik 10%.
"Di RPH (Rumah Pemotongan Hewan) naik, kita nggak bisa apa-apa, ya ngikutin aja. Sekarang mah istilahnya kita kerja bakti aja (Nggak ngambil untung). Makanya orang lebih pengen makan tahu daripada daging sekarang. Nanti bulan puasa naik lagi biasanya 10%-an," pungkasnya.
Seperti diketahui kuota impor daging sapi tahun 2012 yang hanya dipatok 34.000 ton atau turun 60%. Angka ini sudah jauh lebih rendah dari tahun 2011 lalu yang totalnya mencapai 100.000 ton. Hal yang sama pun terjadi pada pemangkasan kuota impor sapi bakalan (sapi hidup) dari 400.000 ekor menjadi 283.000 ekor di 2012.
(zul/hen)











































