Ssst...Ada Dua Rencana Rute Proyek Jembatan Selat Sunda

Ssst...Ada Dua Rencana Rute Proyek Jembatan Selat Sunda

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Jumat, 06 Jul 2012 11:35 WIB
Ssst...Ada Dua Rencana Rute Proyek Jembatan Selat Sunda
Jakarta -

Saat ini pemerintah memiliki dua pilihan trase atau rute proyek Jembatan Selat Sunda (JSS). Dua versi itu antara lain hasil survei awal dari Prof. Wiratman Wangsadinata (pra studi oleh Artha Graha) dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Trase JSS buatan Ditjen Bina Marga memiliki panjang total 28,8 kilometer (Km) sedangkan trase hasil Wiratman panjangnya 28,4 Km. Lokasi pilihan dari Wiratman terletak di belakang PT Asahimas Chemical, Anyer, Banten, sementara lokasi masukan dari Ditjen Bina Marga berjarak sekitar 3 Km lebih ke selatan.

Wakil Menteri PU Hermanto Dardak mengatakan pihaknya masih mengkaji dua trase itu. Kajian tersebut dilakukan untuk menentukan rute terbaik dari jembatan yang akan menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatera.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hermanto kemarin, didampingi oleh Direktur Bina Pelaksanaan Wilayah II Ditjen Bina Marga Winarno dan Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional IV Masrianto mengkaji dua trase tersebut.

Pra Studi Kelayakan JSS hasil dari Wiratman menunjukkan trase yang relatif lurus, namun harus membangun dua bentang utama jembatan yang berakibat dana pembangunan lebih mahal. Sementara hasil Pra Studi dari Ditjen Bina Marga memperlihatkan trase yang lebih panjang, namun hanya menggunakan satu bentang utama.

"Hasil dari Ditjen Bina Marga PU hanya ada satu (trase) saja, ini lebih mereduksi biaya pembangunan," katanya seperti dikutip dari situs Kementerian PU, Jumat (6/7/2012).

Menurut Hermanto, hasil kedua prastudi ini menjadi konsep dasar untuk tahapan studi kelayakan yang akan segera dilakukan. Menurutnya, bukan tidak mungkin jika nantinya trase yang digunakan merupakan kolaborasi gabungan dari dua kajian tersebut.

Studi kelayakan sendiri direncanakan akan dilakukan dalam waktu dekat guna mengejar konstruksi yang ditargetkan mulai berjalan pada awal 2014.

Meski secara biaya pembangunan lebih murah, namun Hermanto Dardak mengkritisi desain studi awal Ditjen Bina Marga, yang trasenya merencanakan dua patahan cukup tajam ketika mendekat ke sisi Sumatera. Hal tersebut dinilai, akan menyulitkan lajunya kereta api di jembatan tersebut.

"Perlu dibuat rasionalisasi terutama pada sisi Sumatera-nya, supaya jari-jari horizontalnya lebih besar dan tidak patah, karena akan menyulitkan buat kereta api sehingga kecepatannya akan lambat," ungkapnya.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads