Merak Macet, Hatta: Ini Terulang Terus

Merak Macet, Hatta: Ini Terulang Terus

- detikFinance
Senin, 09 Jul 2012 16:09 WIB
Merak Macet, Hatta: Ini Terulang Terus
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Antrean berhari-hari di pelabuhan penyeberangan Merak-Bakauheni terus berulang. Pangkal masalah lumayan kompleks, mulai jumlah dermaga hingga tarif yang kurang menarik bagi investor.

Demikian tanggapan dari Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, soal solusi terus berulangnya antrian panjang di pelabuhan. Dia dicegat wartawan di sela forum bisnis Indonesia-Amerika Latin-Karibia di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (9/7/2012).

"Ini terulang terus. Artinya maka di samping penyediaan dermaga, kapalnya juga harus tangguh," ujar Hatta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, selama ini beberapa hal yang menjadi biang antrean truk selama berhari-hari hingga ke tol Merak. Pertama yaitu pekerjaan penambahan dermaga baik buat di Merak dan Bakauheni.

Penambahan dermaga tidak bisa dihindari seiring meningkatnya arus orang dan barang dari Jawa ke Sumatera serta sebaliknya. Ini pula yang jadi penyebab macet di dua pekan terakhir.

"Menajemennya harus diperbaiki juga mengingat pertumbuhan penyeberangan sangat dahsyat. Kalau manajemennya tidak ketat, terganggu sedikit saja penyeberangan, antreannya jadi panjang," ujar Hatta tentang masalah ke dua.

Fakor ketiga adalah jumlah kapal yang belum sebanding dengan peningkatan penumpang dan barang. Setidaknya perlu 26 unit kapal untuk melayani jalur Merak-Bakauheni, tapi hanya 19 yang pekan lalu beroperasi dan tidak ada lagi kapal cadangan.

Maka perlu penambahan kapal, baik oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) maupun swasta. "Tapi kapalnya jangan usianya di atas 30 tahun dan sebentar-sebentar perlu diperbaiki," imbuh Hatta.

Di sisi lain penambahan unit kapal baru, menjadi masalah yang keempat. Pelaku usaha nilai tarifnya yang berlaku saat ini terlalu rendah sehingga waktunya untuk pengembalian modal terlalu lama.

"Mungkin perlu juga kita pikirkan semacam dual tarif. Ada kapal yang cepat tetapi tarifnya tinggi, yang konvensional tetap berjalan, sampai nanti kita punya jembatan Selat Sunda," papar Hatta.

(lh/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads