"Kita defisit hanya US$ 50 ribuan. Seolah-olah kita impor saja padahal kita juga ekspor, tapi memang defisit untuk sesama singkong," kata Suswono kepada detikFinance di kediamannya Widya Chandra, Jakarta, Selasa malam (10/7/5012)
Berdasarkan catatannya, pada tahun lalu Indonesia mengekspor produk singkong dan turunannya ke berbagai negara dengan nilai kurang lebih US$ 350.000, antara lain ekspor gaplek 11.868 ton, tapioka 83.150 ton, bentuk lainnya 1.024 ton dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Suswono, kenyataan ini merupakan hal yang lazim dalam perdagangan antar negara, karena tak ada negara yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.
"Kaitan dengan singkong, kita ini perdagangan, perdagangan kadang-kadang industri ini membutuhkan bahan baku spesifik. Ada jenis singkong yang dibutuhkan industri, bisa jadi mereka mengimpor, kekurangan bahan baku, tapi sebaliknya ada singkong dari kita yang kita ekspor," katanya.
Kenyataanya pelaku industri memerlukan bahan baku yang spesifik sehingga membutuhkan bahan baku dari negara lain. Sebaliknya negara lain butuh jenis singkong dari Indonesia.
"Jadi ini perdagangan biasa," katanya.
(hen/dnl)











































