Demikian disampaikan Sri Mulyani di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (12/7/2012).
"Karena kalau zaman dulu orang menganggap IMF atau Bank Dunia dipersepsikan yang memegang peranan penting dalam menentukan keputusan dan kebijakan itu mungkin negara-negara G7 dahulu kala. Sekarang G7-nya dalam krisis dan mereka posisinya dalam ekonomi dunia, juga menurun, dan peranan mereka terhadap policy internasional dalam hal ini juga mungkin bukan sebagai contoh sehingga banyak negara lebih senang belajar dari sesama negara developing country," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya di Bali kemarin, Uganda dan negara-negara latin lainnya belajar pada Asia, sekarang setelah mereka mengalami reformasi mereka pengen belajar dari Indonesia bagaimana menanganinya pada tahun 1997-1998. Mereka menganggap belajar dengan negara-negara terdekat itu lebih relevan," jelasnya.
Saat ini, Sri Mulyani menyatakan Indonesia mampu menggerakkan lembaga tersebut dengan kekuatan ekonomi yang dimilikinya dan tidak lagi sebagai peminta sumbangan dari IMF dan Bank Dunia.
"Itu memiliki perang yang aktif sebagai shareholder yang aktif jadi kita tidak hanya jadi peminjam dan menunggu policy dari lembaga seperti Bank Dunia, tapi kita mengarahkan Bank Dunia," tandasnya.
(nia/dnl)










































