"Nggak selalu bisa. Kelihatannya jujur, tapi bisa berubah. Meskipun santri, tidak menjamin setelah tiga, lima tahun," kata Dirjen Pajak Fuad Rahmany di Jakarta, Minggu (15/7/2012).
Termasuk pula, pegawai pajak dengan nilai keagamaan yang tinggi, tidak menjamin memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya. "Banyak juga koruptor naik haji. Ada juga santri belum tentu amanah," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perusahaan misal Astra, untung Rp 100 miliar. Maka harus dicek. Tambang batubara, dan migas juga. Perusahaan asing bilang per hari 100 ribu per barel. Kita nggak percaya gitu aja," tegasnya.
Pencegahan kasus suap dalam tubuh Ditjen Pajak, juga diupayakan Fuad dengan membangun sistem. "Sebagai pemimpin, kita ada pendataan, informasi, dokumen harus jelas. Meski sistem tantangannya juga nggak gampang," katanya.
Fuad pun berpesan, seluruh pegawai pajak jangan lagi 'bermain'. Karena hukuman kasus penyuapan, bukan hanya dialamatkan kepada pemberi suap. Tapi penerima suap. "Jangan kongkalikong. Dua-duanya, untuk disuap dan menyuap kena dan ditindak," pungkas Fuad.
(wep/hen)










































