Kenaikan harga daging ayam di pasaran yang melonjak karena harga pakan yang melambung. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo menuturkan, harga daging ayam saat ini mengalami kenaikan yang disebabkan oleh kenaikan harga DOC (ayam bibit) dan harga pakan.
"Ayam kenaikan dari DOC itu juga naik dan kenaikan juga dari pakannya," ungkap Gunaryo usai konferensi pers di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (16/7/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pakan itu dari jagung, harga jagungnya naik, karena Amerika pengekspor menderita kekeringan panjang. Jadi karena pakannya meningkat, harga bibit pun jadi naik. Yang dulu Rp 3.500, sekarang jadi Rp 4.000, sekarang harga jualnya Rp 4.500 hingga Rp 5.000," katanya.
Sebenarnya, harga pakan ini bisa ditekan dengan produksi jagung dalam negeri. Namun Don mengatakan, produksi jagung untuk pakan di dalam negeri masih kurang.
"Karena produksi di dalam negeri itu tidak cukup jadi balik lagi ke impor,"
Lebih lanjut, Don mengungkapkan tahun lalu jumlah impor jagung indonesia mencapai 3,3 juta ton, sedangkan kebutuhan jagung pakan dalam negeri sekitar 7 Juta ton.
"Impor kita tahun lalu itu 3,3 juta ton hanya untuk pakan. Sedangkan kuota kita 6,5 hingga 7 juta ton," paparnya.
Periode Januari hingga Juli ini, Don menyebutkan, impor jagung pakan berkisar di angka 1 juta ton hingga 1,5 juta ton.
Dia mengatakan, impor pakan jelas menjadi faktor kenaikan harga daging ayam di pasaran. Dia mendorong pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung dalam negeri.
"Jelas itu menjadi faktor naik. Kita ingin jagung bisa diproduksi di dalam negeri," tutupnya.
Dari sisi pengusaha mengatakan, saat ini harga ayam saat ini naik dari Rp 26 ribu per kg menjadi Rp 30 ribu per kg.
(zlf/dnl)










































