Ekspor RI Melempem, Ini Jawaban Wamendag

Ekspor RI Melempem, Ini Jawaban Wamendag

Inka Nesya - detikFinance
Selasa, 17 Jul 2012 13:55 WIB
Ekspor RI Melempem, Ini Jawaban Wamendag
Jakarta -

Ekspor RI masih saja belum menunjukkan keperkasaannya. Dalam neraca perdagangan nilai ekspor masih cukup rendah ketimbang impor. Apa sebabnya?

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krishnamurti mengungkapkan ekspor masih terganggu oleh turunnya kurs alias nilai tukar.

"Ekspor karena faktor internasional saya kita. Itu yang bikin ekspor kita turun, kursnya," ungkap Bayu di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (17/7/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Bayu, pada dasarnya ekspor di negara-negara berkembang harusnya menunjukkan volume yang tinggi, seiring terganggunya ekonomi di AS dan Eropa.

"Ya saya kira bisa kita liat kan. Kalau waktu awal bulan saya selalu laporkan bagaimana kinerja ekspor itu selalu menunjukkan bahwa negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekspor paling tinggi justru ada di negara-negara baru itu. Jadi saya kira itu menunjukkan prospek. Sayangnya memang volumenya belum besar," kata Bayu.

"Jadi artinya secara keseluruhan mungkin dampaknya belum terasa di total neraca kita," ungkapnya kembali.

Dari sisi komoditi sendiri, Bayu menyampaikan tekanannya masih sangat terasa. Namun kedepan diprediksikan masih banyak permintaan sektor komoditi minyak sawit.

"Komoditi apa masih akan tertekan. Kita akan melihat bahwa kalau ekonomi, pertumbuhan ekonomi sekarang masih belum terjadi pembaikan maka ya kita belum bisa melihat kemungkinan peningkatan permintaan terhadap aren terhadap sawit dan terhadap produk-produk andalan kita itu termasuk juga terhadap pertambangan," kata Dia.

"Jadi mungkin pada semester kedua pun kita belum bisa mengharapkan kelonjakan yang besar walaupun kita tetap optimis apa namanya neraca kita pada bulan-bulan depan. Ya mudah-mudahan bisa lebih baik karena alasannya adalah pada 4-6 bulan ini impor kita yang besar adalah bahan baku dan itu dipergunakan untuk industri dan kemudian nanti akan diekspor," paparnya.

Soal surplus perdagangan, Bayu menambahkan nilainya tidak akan jauh berbeda pada 2011 lalu.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads