Bank Dunia: RI Masih Banyak 'PR', Jangan Berpuas Diri!

Bank Dunia: RI Masih Banyak 'PR', Jangan Berpuas Diri!

Herdaru Purnomo - detikFinance
Rabu, 18 Jul 2012 10:23 WIB
Bank Dunia: RI Masih Banyak PR, Jangan Berpuas Diri!
Jakarta -

The World Bank (Bank Dunia) menilai perekonomian RI tidak kebal dari pengaruh perkembangan internasional melalui jalur perdagangan dan keuangan. RI dihadapi dua tantangan besar yakni 'survive' dari krisis ekonomi global dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi ditengah pertumbuhan ekonomi dunia yang melemah.

Demikian dikutip detikFinance, Rabu (18/7/2012) dari Laporan Triwulanan Perekonomian Indonesia yang bertajuk Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan yang dirilis Bank Dunia.

Bank Dunia memaparkan, prospek pertumbuhan global masih tetap lemah dan pasar keuangan tetap bergejolak. Akan tetapi, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kini masih tetap kuat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal pertama tahun 2012 masih tetap kuat pada 6,3 persen tahun-ke-tahun, sedikit turun dari rata-rata 6,5 persen di tahun 2011. Konsumsi masih bertahan kuat pada kwartal pertama 2012, pertumbuhan investasi menurun, sementara ekspor netto memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan.

"Perekonomian Indonesia tidak kebal dari pengaruh perkembangan internasional melalui jalur perdagangan dan keuangan. Penurunan harga komoditas internasional, dan volume yang turun, berkontribusi terhadap penurunan pertumbuhan ekspor pada beberapa bulan terakhir dan mengecilnya surplus perdagangan telah membawa neraca berjalan bergeser ke defisit," tulis Bank Dunia.

Tingginya penghindaran risiko internasional pada bulan Mei juga disertai oleh aliran keluar modal. Harga aset-aset dalam negeri menurun dan aliran keluar portofolio, ditambah dengan melemahnya neraca perdagangan, memberikan tekanan terhadap Rupiah.

Mencerminkan kinerja yang relatif kuat hingga saat ini, proyeksi dasar (baseline) PDB Indonesia adalah pertumbuhan sebesar 6,0 persen di tahun 2012 dan 6,4 persen di tahun 2013.

"Akan tetapi, dalam hal terjadi kebekuan parah di pasar keuangan internasional yang berkontribusi terhadap penurunan pertumbuhan mitra perdagangan, penurunan harga komoditas dunia dan turunnya tingkat kepercayaan investor, seperti di tahun 2009, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat menjadi 4,7 persen di tahun 2013," jelas Bank Dunia.

Bahkan dalam laporannya, Bank Dunia menulis dalam skenario dimana krisis diatas disertai, atau bahkan ditimbulkan oleh penurunan perekonomian global yang lebih parah dan panjang yang berdampak pada ekonomi berkembang utama, maka pertumbuhan di Indonesia dapat turun ke 3,8 persen.

"Dengan resiko ekonomi global yang tinggi dan diperkirakan akan bertahan, perekonomian berkembang (emerging economies), termasuk Indonesia, menghadapi tantangan ganda yaitu meningkatkan kesiagaan menghadapi krisis untuk mengatasi tekanan jangka pendek dan juga pada saat bersamaan mempersiapkan kebijakan-kebijakan untuk mendukung pertumbuhan jangka menengah di tengah lingkungan dunia yang melemah," terangnya.

"Indonesia telah membuat kemajuan dalam persiapan menghadapi krisis tetapi masih dibutuhkan pekerjaan lanjutan - tidak ada ruang bagi sikap berpuas diri dalam lingkungan pasar yang rapuh seperti sekarang ini," tulis Bank Dunia kembali.

Indonesia, seperti ekonomi berkembang lainnya, harus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan gejolak ekonomi global yang panjang dan melemahnya permintaan dari negara maju dengan menekankan kembali strategi pembangunan jangka menengah, dengan fokus pada reformasi yang meningkatkan produktifitas dan iinvestasi infrastruktur.

(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads