"Ada bandara pegunungan bintang namanya, yang banyak di bangun di Papua Nugini, tapi sekarang masuk ke Indonesia. Saya ingin, Merpati bisa berlabuh di sana," ungkap Dahlan dalam sambutannya di acara MoU antara PT Merpati Nusantara Airlines dengan PT Dirgantara Indonesia, di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (19/7/12).
Sebelumnya, di bandara yang bernama Pegunungan Bintang ini, hanya ada 1 maskapai Indonesia yang membuka rute ke bandara ini, yaitu Pelita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan alasan tidak cocok dengan tarifnya, Pelita tidak lagi menerbangkan pesawatnya di bandara yang berbatasan dengan Papua Nugini ini.
"Dan bupatinya menyampaikan karena Pelita ingin menaikkan tarifnya dari Rp 1 juta jadi Rp 2,5 juta. Karena tidak ada kesepakatan, jadi tidak terbang,"
Oleh karena itu, lebih lanjut Dahlan mengatakan dengan dibelinya 20 pesawat oleh Merpati, dia berharap perjuangan yang telah dilakukan oleh Pelita bisa diteruskan oleh Merpati.
"Saya ingin Merpati bisa nggak. Coba dihitung. Nggak usah Rp 2,5 jutalah. Saya membayangkan jalan darat nggak bisa. Saya dengar tadi mesin yang akan dibeli Merpati ini cocok. Jadi 20 mayoritas akan di wilayah timur," tutupnya.
Seperti diketahui, Merpati telah menandatangi perjanjian pemesanan pesawat jenis Cessa kepada PT Dirgantara Indonesia dengan nilai Rp 1,02 triliun.
(zlf/dnl)











































