Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementrian Perindustrian Euis Saedah menuturkan harus ada pendekatan dengan para pelaku usaha tahu dan tempe agar mempertimbangkan kembali niatannya. Menurut Euis, hal ini masih bisa diselesaikan dengan cara restrukturalisasi harga.
"Memang mereka mau mogok, tapi ya itu kita mau coba mendekati kepada pengusaha tahu-tempe, apakah mereka bisa merestrukturisasi harga atau tidak," kata Euis kepada detikFinance, Senin (23/7/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya usul ke Kemenko Perekonomian adalah bagaimana kalau kita kontrak panjang dengan importir perusahaan besar kedelai, kan ada Gerbang Cahaya Utama, dan lain-lain, dengan harga tertentu. Terus harus ada keterjaminan pasokan juga. Juga untuk perusahaan ini nanti ada insentif, sehingga win-win," papar Euis
Lebih lanjut Euis menyebutkan, nantinya, perusahaan-perusahaan besar itu akan menjadi pemasok utama para IKM-IKM produsen tahu dan tempe. "Itu perusahaan besar dilakukan kontrak panjang dengan koperasi kedelai sebagai pemasok ke IKM-IKM. Jadi dijembatani," jelasnya.
Seperti diketahui, para produsen tahu dan tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (GAPTINDO) berencana untuk mogok produksi lantaran harga bahan baku yaitu kedelai melonjalk hingga harga Rp 8.000/kg.
Pedagang Tak Tahu Soal Rencana Aksi Mogok Perajin Tempe
Rencana para perajin tahu tempe di Jabodetabek, Banten dan Bandung melakukan aksi mogok produksi pada 25-27 Juli 2012 ternyata belum diketahui pedagang. Para pedagang gorengan tempe-tahu di kawasan Monas dan Tanah Abang, Jakarta Pusat kebingungan soal kabar tersebut.
"Jika benar, kami bingung, esok lusa mau jualan apa," ungkap Tri Wahyuni Pedagang gorengan di kawasan Monas, Jakarta Pusat kepada detikFinance.
Tri mengakui bahwa tidak adanya tempe-tahu di pasaran akan menambah masalah baru.
"Saya tidak tahu besok lusa mau jualan apa, mungkin bakwan akan diperbanyak saya goreng dan pisang gorengnya juga, repot kalo sudah seperti ini," katanya.
Di Kawasan Tanah Abang, para penjual kaget mendengar isu ini, dan mereka berharap bahwa isu ini tidak benar.
"Saya tidak tahu ini benar atau tidak, jika benar, saya bingung, tahu-tempe kan masakan khas Indonesia masa menghilang di pasar," papar Meri penjual gorengan di kawasan Tanah Abang.
Meri menambahkan jika lusa keberadaan tempe dan tahu menghilang dari pasaran, ia akan menambah jumlah bakwan goreng dan pisang goreng yang dibuatnya untuk antisipasi dan kompor agar bisa terus nyala. Β
(zlf/hen)










































