"Kedelai saat ini sudah masuk harga Rp 8.200 per Kg. kita jual perbatang dengan harga Rp 4.000. omzet kami merugi 60% caranya kita kecilkan tempe sampai 10 mili," kata Rohman salah satu perajin tempe di Tanjung Priok, kepada detikFinance, Selasa (24/7/2012).
Saat ini, strategi memangkas ukuran tahu dan tempe dianggap sudah tak ampuh untuk mengimbangi kenaikan harga kedelai. Sebelum berencana mogok, kalangan perajin tempe memangkas ukuran produk tempenya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai siang ini, mereka harus rela tak mendapatkan omzet Rp 1.400.000 per hari yang biasa mereka dapatkan dari produksi tahu-tempe. Menurut Rohman, semua demi solidaritas antar perajin tempe dan tahu.
"Kita tidak merasa rugi, itu semua demi kepentingan produsen tahu tempe agar kedelai tidak naik terlalu tajam," pungkas Rohman.
Seperti dikatahui para perajin tahu-tempe resmi mematikan kayu bakar mereka selama 3 hari mulai hari ini (25-27 Juli 2012). Hal ini dikarenakan surat edaran dari KOPTI akan adanya aksi mogok solidaritas pengusaha tahu-tempe se-Jabodetabek dan naiknya harga kedelai yang tembus Rp 8.200/kg.
"Kita matikan kayu bakar, sekarang harga kedelai tembus sampai dengan Rp 8.200 kami jual ke konsumen harga tahu tetap pada kisaran Rp 200 dan ada juga yang Rp 250, harga tetap tetapi ongkos produksi tambah, kita rugi," ungkap Mukhrom seorang perajin tempe di Tanjung Priok.
(hen/hen)










































