Darmin: Penyelundupan Marak Akibat Disparitas Harga Sangat Tinggi

Darmin: Penyelundupan Marak Akibat Disparitas Harga Sangat Tinggi

- detikFinance
Rabu, 25 Agu 2004 18:15 WIB
Jakarta - Dirjen Lembaga Keuangan Darmin Nasution mensinyalir tingginya perbedaan harga minyak di dalam negeri dan luar negeri akan menyebabkan makin maraknya penyelundupan BBM ke luar negeri. Tapi sejauh ini Pertamina telah berusaha mengontrol penggunaan BBM secara ketat."Tapi menurut kita, lihat saja nanti apakah konsumsi masyarakat akan meningkat atau tidak dari yang diperkirakan semula sebesar 59,6 juta kilo liter per hari. Kecenderungan ke arah penyelundupan tersebut memang besar jika dilihat logika perbedaan harga minyak di dalam negeri dan luar negeri yang cukup mencolok," kata Darmin Nasution di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (25/8/2004).Mengenai hal ini Menkeu Boediono mengaku akan melakukan koordinasi dengan Menteri ESDM. Sementara terkait tingginya subsidi BBM menurut Darmin hal itu juga disebabkan karena subsidi yang diberikan pemerintah tidak hanya menyangkut BBM untuk keperluan rumah tangga saja tetapi juga untuk industri mengingat biaya pokok industri sudah di atas Rp 2.100 per liter.Namun meski subsidi cukup tinggi bahwa pemerintah sudah memperhitungkan dengan total penerimaan migas yang diperoleh pada tahun ini yang diperkirakan sebesar Rp 109,9 triliun. Hal ini dengan asumsi produksi minyak mentah mencapai 1,072 juta barel per hari dan harga rata-rata minyak mentah sepanjang tahun sebesar US$ 36 dolar per barel."Itu artinya dari Januari sampai Juli rata-rata harga minyak sebesar US$ 34,1 per barel dan dari Agustus sampai Desember perkiraannya US$ 38,65 per barel dengan hitungan kurs Rp 8.900 per US$ 1," ungkapnya.Pemerintah juga memperoleh penerimaan dari PPh Migas sebesar Rp 23 triliun dan penerimaan SDA Rp 86,8 triliun. Namun penerimaan tersebut akan dikurangi subsidi sebesar Rp 63 triliun dengan asumsi konsumsi BBM masyarakat 59,6 juta kilo liter per hari dan juga harus dikurangi dana bagi hasil ke daerah untuk migas yang meningkat dari Rp 8,4 triliun menjadi Rp 17,4 triliun.Saat ditanya komposisi subsidi untuk rumah tangga dan industri, Darmin tidak menjelaskan yang pasti semuanya sudah disubsidi karena dalam Keppres BBM ditetapkan harga tertinggi antara Rp 2.100-2.200 per liter dimana biaya pokoknya sudah melebihi rentang tersebut. (san/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads