Tempat pembuatan tahu milik Sunardi di Kampung Krajan RT 3 RW 3, Mojosongo, Solo, tidak seramai biasanya. Lebih dari separo alat produksinya diistirahatkan. Biasanya, perajin kecil yang tidak memiliki mesin dan alat produksi sendiri, akan mencetakkan tahu di perajin besar seperti milik Sunardi. Perajin kecil itu bukan hanya dari sekitarnya, tetapi ada juga yang berasal dari luar Solo.
"Sudah beberapa hari ini perajin kecil tidak mencetakkan tahu disini. Dengan harga bahan baku seperti sekarang dan harga jual yang tidak mungkin dinaikkan, bagi perajin kecil hitungannya pasti merugi cukup banyak karena harus membayar peminjaman alat maupun biaya pengangkutannya," ujar Sunardi, saat menerima kunjungan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima, Kamis (26/7/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mengejar untung sudah tidak mungkin, bahkan untuk produksi saja kami sudah mulai merogoh tabungan. Menaikkan harga jual juga tidak mungkin. Akhirnya yang kami lakukan adalah mengurangi volume produksi dan mengurangi ukuran tahu. Dengan demikian warga tetap bisa makan tahu," lanjutnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Slamet, perajin tahu lainnya di kawasan sentra industri tahu di Solo tersebut. Menurut Slamet, lebih dari 90 persen warga di kampungnya berprofesi sebagai perajin tahu dan tempe. Saat ini tidak lebih dari separo yang masih bisa berproduksi karena tingginya kedelai sebagai harga baku tahu dan tempe, terutama para perajin kecil.
"Kita tergantung pada kedelai impor karena mutunya memang lebih baik. Kembali menggunakan kedelai lokal bisa berdampak pada penurunan kualitas produksi. Biasanya kedelai lokal kecil-kecil, kotor, dan masih bercampur dengan tanah. Jika harga kedelai impor tetap pada kisaran Rp 8 ribu seperti sekarang, dipastikan seluruh perajin akan gulung tikar. Sekarang yang masih bertahan itu sama sekali tidak dapat untung," ujarnya.
(/)










































