Demikian diungkapkan Direktur Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Satwiko Darmesto di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Rabu (1/8/2012).
"Kayaknya sepanjang sejarah, karena kita selalu untung terus dulu, jarang mengalami defisit tapi begitu defisit sekarang itu kayaknya kita dalam sekali. Tahun 2008 itu defisitnya sekitar US$ 700 juta an, berarti ini kan lebih dari itu US$ 1,3 miliar," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satwiko mengungkapkan memang ada penurunan permintaan dari negara utama ekspor Indonesia, seperti China dan Jepang.
"Kita contohkan China itu juga melemah, kalau kita tergantung China, kalau China melemah kita juga repot, seperti India misalnya dia tidak mengimpor CPO, kita juga bisa kalang kabut. Misalnya dengan Jepang batubara itu turun ekspornya, batubara itu harganya turun, tapi volume ekspornya juga turun. Ya mungkin karena harga, tapi mungkin juga karena musim panas jadi tidak perlu batubara," paparnya.
Menurut Satwiko, kondisi dunia saat ini memang agak menyulitkan pemerintah untuk meningkatkan ekspor. untuk itu, pemerintah perlu melakukan banyak perjanjian dagang guna menjaga distribusi produk dalam negeri.
"Memang tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan, artinya promosinya sekarang, kunjungan para menteri dan pengusahanya sekarang, tapi itu 1 tahun atau setengah tahun itu baru bisa jalan. Apalagi harus memakai MoU seperti itu, baru tindak lanjutnya setahun kemudian, jadi tidak bisa segera," tandasnya.
(nia/dru)










































