Rencana perluasan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) akan berdampak pada penggusuran ribuan rumah di pinggiran Bandara Soetta Tangerang, Banten. Warga yang tergusur tentunya ingin rugi untung yang setimpal.
Berapakah harga tanah di pinggiran bandara yang akan tergusur itu?
Berdasarkan penelusuran detikFinance di kawasan sekitar bandara, beberapa warga mengatakan harga tanah di wilayah yang akan tergusur ini bervariatif, mulai dari Rp 300.000/meter persegi hingga Rp 4 juta/per meter persegi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Murjali menegaskan apabila tempat tinggalnya akan digusur, ia ingin biaya ganti rugi harus sepadan. Jika tidak, ia bersama dengan masyarakat yang lain akan menolak. "Kalau udah gitu ya mau gimana lagi. Nggak bakal protes protes, asal harga nya pas ya kita kasih saja," ungkapnya.
Namun, dia nampak tidak terlalu khawatir dengan hal ini, pasalnya apabila ini terjadi, bukan hal yang pertama bagi Murjali.
"Dulu pernah digusur pas harganya masih Rp 300 perak. Tapi biasanya kalau pemerintah itu kita nggak punya sertifikat aja dihitung, kita tanam apa itu dihitung, mereka tulis semua. Tinggal diratain rumah kita," katanya.
Seperti diketahui PT Angsapura II selaku pengelola Bandara Soekarno-Hatta akan memperluas bandara terbesar di Indonesia dengan membuat runway baru dari 2 runway yang sudah ada saat ini. Ada 2 opsi, pertama akan mengancam 2.000 rumah penduduk akan tergusur, opsi kedua akan ada 9.500 rumah penduduk yang tergusur.
Berdasarkan penelusuran detikFinance, ada beberapa kelurahan yang terancam akan tergusur dari proyek ini, antaralain Selapajang, Rawarengas, Rawaburung dan Benda.
Opsi pertama, untuk mengganti 2.000 rumah yang digusur mencakup 140 hektar dananya Rp 850 miliar. Sementara opsi kedua, pembangunan runway membutuhkan lahan seluas 830 hektar dengan dana yang dibutuhkan sebesar Rp 4,6 triliun, mencakup 9.400 rumah yang akan digusur.
(zlf/hen)
