Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Harus Berantas Pungli

Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Harus Berantas Pungli

Ramdhania El Hida - detikFinance
Senin, 06 Agu 2012 15:09 WIB
Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Harus Berantas Pungli
Jakarta - Apa hubungan maraknya pungutan liar (pungli) dengan pertumbuhan ekonomi? Ternyata praktik pungli cukup berpengaruh terhadap aspek pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Suharyanto mengatakan aspek pertumbuhan ekonomi mencakup kinerja ekspor, konsumsi masyarakat, belanja pemerintah dan investasi.

Suharyanto menuturkan untuk menggenjot investasi perlunya perbaikan di 3 hal, Pertama, perbaikan birokrasi yang belum efisien, infrastruktur yang belum baik, dan pengurangan tindak pidana korupsi, termasuk pungutan liar (pungli).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita perlu birokrasi yg bersih dan efisien, kita perlu birokrasi yang mendukung dan jangan ada korupsi sehingga biaya produksi jadi rendah. Iya (pungli) itu akan membebani biaya produksi dan pengusaha itu tidak akan beban itu ditanggung diri sendiri pasti dibebani ke konsumen," katanya saat ditemui di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (6/8/2012).

Hal ini juga yang telah diperingatkan oleh Bank Dunia terkait daya saing produk dalam negeri di dunia internasional.

"Pungli-pungli itu akan menyebabkan biaya produksi tinggi sehingga konsumsi rendah, harga barang jadi mahal jadi tidak mampu berkompetisi dengan yang lain," tandasnya.

Menurutnya pemerintah dapat terus meningkatkan konsumsi rumah tangga, pemerintah, dan investasi guna mencapai target pertumbuhan yang telah ditetapkan dalam APBN-P 2012 sebesar 6,5%.

Ia menyatakan dari segi konsumsi masih ada potensi untuk ditingkatkan karena adanya Lebaran di triwulan III. "Kalau lebaran konsumsi naik, jadi yang jelas konsumsi rumah tangga dipastikan akan meningkat," jelas Suharyanto

Sementara itu, lanjut Suharyanto, tren konsumsi pemerintah pada semester III dan IV memang akan meningkat. Selain itu, instrumen yang masih bisa ditingkatkan adalah investasi. Pasalnya, dari sisi ekspor, Suharyanto menjelaskan agak sulit ditingkatkan karena kondisi ekonomi global.

"Konsumsi pemerintah sekarang hampir 43% ada harapan akan naik, jadi konsumsi pemerintah saya duga akan naik. Ekspor tergantung kalau sekarang kan ekspor defisit. Pemerintah bilang kita berusaha perluas pasar ekspor, kita berusaha perkuat konsumsi domestik dan perkuat nilai tambah. Kalau upaya ini bisa dikejar dan ekspor bisa positif, akan bagus," paparnya.

(nia/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads