Ini Cara Bulog Amankan 5 Komoditas Pangan

Ini Cara Bulog Amankan 5 Komoditas Pangan

- detikFinance
Selasa, 07 Agu 2012 17:35 WIB
Ini Cara Bulog Amankan 5 Komoditas Pangan
Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan pihaknya siap menjalankan amanat Presiden SBY dalam rangka mengamankan lima bahan pangan, yaitu beras, kedelai, gula, jagung, dan daging.

"Presiden menginstruksikan, menugaskan, mengubah fungsinya Bulog sehingga lebih luas," ujar Sutarto kepada detikFinance, Selasa (7/8/2012).

Untuk pengamanan tersebut, Sutarto masih menunggu perhitungan dari tim terkait perluasan fungsi Bulog ini. "Itu sedang dibahas di tim yang diketuai Wamendag Bayu (Krishnamurti), harus studi dan karena terkait bisnis tidak bisa dibocorkan begitu saja Bulog harus impor berapa," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun demikian, Bulog sejatinya juga memiliki perhitungan terkait pengamanan kelima bahan pangan tersebut. Angkanya diperkirakan tidak jauh berbeda dengan beras.

"Sama seperti beras sekitar 10% minimum. Tapi kalau gula mungkin lebih, gula dari PTPN dikuasai Bulog sudah sangat baik, tapi kalau impor, nanti Bulog ikut di situ," jelasnya.

Hanya saja, lanjut Sutarto, untuk kedelai yang saat ini 60% masih impor, minimal setengahnya bisa dikendalikan oleh pemerintah.

"Misalkan kebutuhan impor 1,5 juta, ya sekitar 1,4 juta dikendalikan. Caranya dengan membangun jaringan dengan koperasi-koperasi," paparnya.

Sementara untuk daging, Sutarto menyatakan pihaknya akan mengendalikan pada masa tertentu saja saat kebutuhan daging tengah meningkat.

"Daging itu kan berfluktuasi. Pada saat tertentu Bulog diberi kesempatan penugasannya harus ada berapa persen. Kalau impor terlalu besar, pemerintah tidak akan mampu. Daging ini pengalaman baru," tuturnya.

"Masing-masing komoditas punya kerentanan berbeda, tuntutannya berbeda, seperti daging fluktuasinya menjelang lebaran, lebaran haji. Itu kita hitung berapa kebutuhan sapi, jadi berapa impor dan Bulog harus menguasai berapa persennya," tegas Sutarto.

Sedangkan untuk jagung, Sutarto menjelaskan telah terjadi peningkatan impor dalam dua tahun belakang. Untuk itu perlu ada sistem penyangga harga impor. Yakni Bulog, agar harganya tidak terlalu berfluktuasi.

"Sepanjang masih impor, harga akan terpengaruh. Jagung, dua tahun ini meningkat mulai 2010-2011. Kalau meningkat ini karena produksi kurang. Produksi harus didorong, tapi karena harus impor, itulah perlunya sistem penyangga," tegasnya.

Mengenai anggaran untuk pengamanan pangan, Sutarto menyatakan mekanismenya sama persis dengan pemberian anggaran kepada Bulog untuk pemenuhan pasokan beras.

"Bulog karena sebagai penyangga, Bulog dititipi beras dari pemerintah. Jadi Bulog beli dari kredit bank, karena yang dibeli masyarakat jauh lebih murah. Nah, ada selisih ini yang diminta ke negara. Nanti juga kayak begitu mekanismenya," tandas Sutarto.


(nia/wep)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads