Rencana PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membangkitkan kembali proyek monorel di Jakarta disambut positif pelaksana proyek MRT, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Diharapkan kedua proyek ini bisa segera dibangun dan saling melengkapi.
"Ini bisa saling melengkapi. Tujuan dari penyediaan angkutan massal cepat antara lain heavy rail seperti MRT, maupun light rail seperti monorel agar publik beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum," kata Kepala Biro Humas PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Manpala Rega Chandra Gupta Sitorus kepada detikFinance, Senin (13/8/2012)
Menurut Gupta, jika MRT dan monorel bisa terintegrasi maka akses masing-masing moda transportasi akan semakin mudah. Bagi penumpang hal ini akan menarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, transportasi massal seperti MRT maupun monorel harus nyaman dan bisa diandalkan, terutama dalam hal ketepatan waktu. Secara kemampuan angkut, monorel lebih sedikit dibandingkan dengan MRT, namun keduanya bisa saling mendukung.
"MRT juga harus mudah dicapai, untuk ini integrasi dengan moda transportasi lain dibutuhkan," katanya.
Proyek MRT tahap I sepanjang 23,8 Km rencananya menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran HI, koridor utara-selatan, jalur MRT terdiri dari 13 stasiun MRT. Yaitu sebanyak 7 stasiun sepanjang 7 Km berada di atas (elevated/layang) yaitu stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete, Haji Nawi, Blok A, Blok M dan Sisingamangaraja.
Sementara itu proyek monorel yang akan digarap Adhi Karya, akan terhubung 16 stasiun, yakni di kawasan Mega Kuningan, Sampoerna Strategic Square (Jl. Sudirman), SCBD, Grand Indonesia (Jl. Thamrin), Tanah Abang dan Dukuh Atas.
Rencananya akan feeder monorel akan beroperasi melewati Tanah Abang, Grand Indonesia, Dukuh Atas, Hotel Four Season, kemudian menuju ke SCBD dengan melewati Casablanca (Jl. Satrio), Bendungan Hilir, Istora Senayan hingga ke Palmerah.
(hen/wep)










































