Tahun 1992 Indonesia Pernah Swasembada Kedelai

Tahun 1992 Indonesia Pernah Swasembada Kedelai

Rista Rama Dhany - detikFinance
Selasa, 14 Agu 2012 13:51 WIB
Tahun 1992 Indonesia Pernah Swasembada Kedelai
Jakarta - Pada tahun 1992 Indonesia pernah swasembada kedelai, dengan produksi mencapai 1,8 juta ton/tahun. Swasembada itu terakhir dicapai Indonesia, hingga kini produksi dalam negeri stagnan bahkan cenderung turun.

"Namun saat itu jumlah penduduk kita masih 180 juta jiwa, saat ini produksi kita terus turun hanya 800.000 ton sementara jumlah penduduk kita sudah 240 juta jiwa, tentu tidak cukup hanya mengandalkan produksi lokal," kata Sekjen Kementerian Perdagangan Ardiansyah Parman pada acara Public Hearing "Permasalahan Kedelai Indonesia" di Kantor KPPU, Selasa (14/8/2012).

Menurut Ardiansyah, impor kedelai Indonesia bukanlah yang terbebesar, jumlahnya hanya 5% dari produksi kedelai Amerika Serikat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Impor dari Amerika Serikat hanya 5% saja, bandingkan China yang impornya sebanyak 61% atau mencapai 22 juta ton per tahun dari total produksi kedelai Amerika Serikat dan Meksiko sebesar 8,74% serta Jepang 5,24%," jelasnya.

Ia menilai wajar jika harga kedelai dalam negeri beberapa bulan ini melonjak tajam, pasalnya Indonesia tergantung dengan kedelai impor khususnya dari Amerika Serikat.

"Wajar saja ketika harga kedelai dunia/impor naik, harga kedelai di dalam negeri juga ikut naik," katanya.

Ia menuturkan produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 800.000 ton/tahun, sementara kebutuhan konsumsi kedelai mencapai 2,4 juta ton/tahun.

"Ya karena produksi kita tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, produksi kita 800.000 ton/tahun, sementara kebutuhannya 2,4 juta lebih, ya mau tidak mau 2 juta ton kedelai/ tahun diimpor, dari angkanya ini impor kita 3 kali lipat dari produksi nasional kita, ya wajar saja harga kedelai impor naik, kedelai dalam negeri ikut naik," ujarnya.

Namun, memang kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan, Indonesia harus punya ketahanan pangan sendiri terutama harus swasembada kedelai, namun faktanya persaingan kedelai sangat berat.

"Kedelai lokal selalu lebih mahal dibandingkan kedelai impor, hal ini membuat petani lebih memilih tanam padi, tebu, jagung atau ubi kayu, harganya lebih baik," ucap Ardiansyah.

Harga kedelai impor lebih murah, karena adanya kebijakan insentif ekspor dari negara produsen seperti Amerika Serikat.

"Makanya harga kedelai impor bisa jauh lebih murah dibandingkan lokal. belum lagi masalah peralihan lahan dari lahan pertanian ke non pertanian yang pertahunnya bisa mencapai 100.000 hektare per tahun, sehingga mengurangi areal tanam yang berdampak pada makin merosotnya produksi," tandasnya.

(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads