PT Adhi Karya Tbk berencana membangkitkan kembali proyek monorel di Jakarta yang lama terbengkalai. Namun bagaimana tanggapan pihak Pemerintah Provinsi Jakarta?
Kadishub Provinsi DKI Jakarta Udar Pristono menuturkan, dibanding monorel, ada moda transportasi lain yang dinilainya lebih efisien yaitu Elevated Bus Rapid Transit (BRT) atau bus layang.
"Elevated BRT itu permintaannya pas, lebih efisien dan pembangunannya lebih cepat (dibanding MRT)," ungkap Pristono kepada detikFinance saat ditemui di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (15/8/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Investasinya pun kalau monorel sekitar Rp 4 triliun, kalau elevated BRT bisa setengahnya sekitar Rp 1,6 triliun," katanya.
Pristono menyebutkan, pembangunan proyek elevated BRT ini bisa menggunakan ini tiang-tiang pancang bekas proyek monorel yang terbengkalai. Namun untuk menggunakannya, Pemprov harus memiliki payung hukum yang jelas.
"Kita bisa memanfaatkan tiang itu tapi harus ada legal aspect-nya dulu. Ketua BPK, Kejaksaan, BPKP, supaya kita ambil alih pada kondisi yang aman secara hukum," katanya.
Bahkan menurut Pristono, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sudah merencanakan hal ini. Rencananya, penambahan busway koridor 13,14,15 akan menggunakan moda transportasi elevated BRT.
"Pak gubernur itu bahkan yang busway koridor 13,14,15 itu akan direncanakan dengan elevated BRT," pungkasnya.
Seperti diketahui sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan setuju mengenai rencana PT Adhi Karya menggarap kembali proyek monorel di Jakarta. Pihak Adhi Karya pernah terlibat pada proyek monorel yang akhirnya dibatalkan oleh Pemda DKI Jakarta beberapa tahun lalu.
Rencana proyek monorel Adhi Karya ini diperkirakan akan menelan investasi Rp 3,73 triliun, proyek ini diberi nama Jakarta Link Transportation (JLT). Sementara saudaranya sesama BUMN karya yaitu PT Hutama Karya juga berencana membangun Urban Railway Transportation atau monorel dari Bekasi-Slipi.
(dnl/hen)










































