Ini Kelebihan Bus Layang Ketimbang Monorel Versi Pemprov DKI

Ini Kelebihan Bus Layang Ketimbang Monorel Versi Pemprov DKI

Zulfi Suhendra - detikFinance
Rabu, 15 Agu 2012 13:53 WIB
Ini Kelebihan Bus Layang Ketimbang Monorel Versi Pemprov DKI
Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta cenderung memilih pembangunan Elevated Bus Rapid Transit (BRT) atau bus layang dibanding monorel. Apa alasannya?

Kadishub Provinsi DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, proyek Elevated BRT lebih efisien. Karena, dari segi sistem komunikasi listrik untuk Elevated BRT lebih sederhana dibanding monorel.

"Elevated BRT sistem komunikasi listriknya kan tidak terlalu rumit, hanya GPS. Tapi kalau kereta api itu jadi bahan perimbangan. Bikin aplikasi elektroniknya, rumit," ungkap Pristono saat ditemui detikFinance di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (15/8/12).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Elevated BRT pun dinilai memiliki keunggulan karena sudah ada perusahaan yang mampu menjalankannya, dan terbukti sudah berjalan, yaitu Transjakarta.

"Di sini kalau dilihat dari jenis pembangunannya, Elevated BRT ini sudah ada tiang tiangnya, sudah ada perusahaannya. Transjakarta itu bisa kita gabung. Itu lebih efisiennya di situ," tambahnya.

Lebih lanjut Pristono mengatakan, nilai investasi Elevated BRT tergolong lebih murah. Dia memperkirakan investasi senilai Rp 1,6 triliun.

"Investasinya pun kalau monorel sekitar Rp 4 triliun, kalau Elevated BRT bisa setengahnya, sekitar Rp 1,6 triliun," katanya.

Walaupun tak melebihi kapasitas kereta, daya tampung yang dapat diakomodasi untuk moda transportasi ini cukup signifikan. Pristono menyebutkan, akan ada 8.000 penumpang yang bisa diangkut tiap jam oleh Elevated BRT.

"Dari segi daya angkut cukup lumayan, di atas busway sedikit, tapi di bawah kereta api. Kira kira busway sekarang itu bisa angkut 4.000 (penumpang) per jam per arah, dia bisa 2 kalinya, 8.000 (penumpang) per jam per arah. Kereta api itu sekitar 40 ribu sampai 100 ribu (penumpang," tambahnya.

Saat ini, menurut Pristono, moda transportasi ini sudah ada di negara China, tepatnya di kota Shianmen. Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, ia menyebutkan, memerlukan waktu sekitar 2 tahun untuk membangun moda ini. Terhitung sejak semua pemangku kepentingan menyetujui dibuatnya proyek ini.

Elevated BRT ini bukan barang baru, ini sudah terealisasi di China dan berhasil. Di sini, kalau disetujui legal aspeknya, itu 2 tahun pengerjaannya dihitung setelah itu disetujui," pungkasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan setuju mengenai rencana PT Adhi Karya menggarap kembali proyek monorel di Jakarta. Pihak Adhi Karya pernah terlibat pada proyek monorel yang akhirnya dibatalkan oleh Pemda DKI Jakarta beberapa tahun lalu.

Rencana proyek monorel Adhi Karya ini diperkirakan akan menelan investasi Rp 3,73 triliun, proyek ini diberi nama Jakarta Link Transportation (JLT). Sementara saudaranya sesama BUMN karya yaitu PT Hutama Karya juga berencana membangun Urban Railway Transportation atau monorel dari Bekasi-Slipi.

Pembangunan monorel rencananya jika disetujui oleh Pemprov DKI Jakarta, akan mulai 2013, dan pada 2015 sudah mulai beroperasi.

Berikut ini usulan rute baru monorel dari Adhi Karya:
Tanah Abang-Thammrin City-Grand Indonesia-Dukuh Atas (Ketemu MRT)-Four Seasons Hotel-Taman Rasuna Said-casablanca-Menara Kadin-Mega Kuningan-Ciputra World-Sampoerna Strategic-Semanggi-SCBD-Ratu Plaza-Senayan.

(zlf/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads