Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyinggung persoalan harga kedelai yang belakangan ini melonjak. Lonjakan harga kedelai ini merupakan efek negatif dari perubahan iklim dunia yang harus disikapi dengan baik.
"Kenaikan harga kedelai di pasar internasional misalnya, disebabkan oleh penurunan produksi yang drastis pada beberapa negara produsen utama kedelai. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat semakin memperkeruh situasi politik dan ekonomi global," kata SBY saat pidato kenegaraan di gedung MPR/DPR-RI, Jakarta, Kamis (16/8/2012)
SBY mengatakan di berbagai belahan dunia, banyak negara mengalami dampak negatif perubahan iklim. Kekeringan dan banjir sering menjadi ancaman terburuk, yang dapat mengakibatkan krisis pangan dan meningkatnya harga pangan dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada lagi perang besar yang melibatkan beberapa negara seperti Perang Dunia Pertama dan Kedua dulu. Sebagian besar masyarakat internasional memilih penyelesaian konflik secara damai," katanya.
Namun menurut SBY saat ini dunia terus berputar, Indonesia dihadapkan pada situasi ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian. Menurutnya krisis di Eropa terus berlanjut dan belum ada titik terangnya.
Dikatakannya negara-negara maju umumnya mengalami stagnasi, bahkan resesi. Bahkan ekonomi negara-negara berkembang, juga mengalami perlambatan yang berarti. Perekonomian global tahun ini, diperkirakan mengalami penurunan dari empat persen menjadi tiga setengah persen.
"Situasi ekonomi global, juga ditandai oleh belum menentunya proses transformasi politik di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. Ketegangan baru yang terjadi di kawasan itu, juga berpotensi menyebabkan naiknya harga minyak dunia," katanya.
(hen/dru)










































