Negara-negara Asia saat ini sedang berjuang untuk menjaga panen berasnya tetap kuat, sementara negara anggota G20 mencoba untuk menahan ancaman lonjakan harga pangan.
"Kita tahun ini mengalami perubahan iklim yang cukup parah yang akan membawa dunia kepada penurunan panen pangan. Khususnya di AS dengan jagungnya dan Rusia dengan kedelainya," demikian peringatan dari Federasi Petani Prancis Philippe Pinta dikutip dari AFP, Minggu (19/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di India, semua mata memantau kondisi inflasi pangan yang terjadi akibat curah hujan yang sangat jarang. Curah hujan turun 15,2% di bawah rata-rata pada pertengahan Agustus ini. Ini membuat harga beras di Asia bakal naik 10% pada bulan depan, karena pasokan menipis.
Saat ini eksportir beras terbesar di Asia adalah India dan Thailand.
Menteri Pangan India Kuruppasserry Varkey Thomas menyatakan kepada anggota parlemen bahwa tahun ini kondisi iklim dan cuaca bakal mempengaruhi kenaikan harga dari komoditas pangan penting.
Namun, organisasi pangan PBB yaitu FAO menyatakan produksi beras dunia pada tahun ini bakal sedikit lebih baik dari tahun lalu. Meskipun ada penurunan prediksi beras dunia tahun ini dari 732 juta ton menjadi 725 juta ton.
Menurut ahli meteorologi Jepang, dunia saat ini merasakan fenomena cuaca El Nino yang memiliki efek pemanasan alami. Ini terjadi aktif di wilayah Pasifik barat dan diperkirakan berlangsung sampai musim dingin di belahan bumi utara.
Pertanian di AS sedang didera kekeringan parah yang pernah terjadi sejak 1950an. Produksi jagung AS mencapai level terendah dalam 6 tahun terkhir.
Saat ini hasil panen pangan dari Australia bakal memegang peranan penting dalam menjaga pasokan pangan di dunia.
Di China, harga pangan sangat sensitif bergerak. Namun China bisa menjaga inlasi pangannya tetap rendah dengan menjaga pasokan tetap lancar.
Media The Financial Times (FT) pernah mengatakan, kekhawatiran atas panen AS telah menggerakkan negara anggota G20 dan pejabat PBB untuk mempertimbangkan pertemuan darurat membahas soal pasokan pangan. Kabarnya, pertemuan dijadwalkan pada 27 Agustus 2012.
Financial Times mengutip seorang pejabat yang mengatakan rencana pertemuan itu bukan tanda kepanikan, melainkan mencerminkan kebutuhan untuk membentuk konsensus untuk menghindari terulangnya kerusuhan dan ketegangan pada 2007-2008 akibat melonjaknya harga pangan.
Kekhawatiran utama yang dihadapi saat ini meliputi pembatasan penimbunan atau ekspor oleh negara-negara produsen pangan. Bahkan FAO juga dikabarkan telah meminta Brasil menahan produksi biofuel yang menggunakan bahan pangan.
Saat ini sebuah di wilayah Sahel, Afrika, banyak terdapat anak yang kekurangan gizi. Bahkan ada 1,5 juta orang yang terserang kolera.
(dnl/dnl)











































