Perusahaan yang bermarkas di Sydney ini mencatatkan kerugian bersih tahunan Aus$ 245 juta (Rp 2,5 triliun) yang berakhir 30 Juni, dibandingkan dengan laba Aus$ 250 juta setahun sebelumnya. Kerugian ini terutama disebabkan oleh beban bahan bakar Aus$ 4,3 miliar atau naik Aus$ 645 juta dari tahun lalu.
Penyebab kerugian lain adalah beban industri Aus$ 194 juta, penahanan pesawat dan beban restrukturisasi Aus$ 376 juta. Sekali lagi, para pemegang saham tidak mendapat dividen dan Qantas tidak memberikan indikasi apa pun kapan perusahaan bisa pulih kembali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buruknya performa internasional makin membuat EBIT kombinasi Qantas terpuruk sebanyak Aus$ 249 juta menjadi Aus$ 21 juta. Sementara Jetstar mengalami peningkatan Aus$ 34 juta menjadi Aus$ 203 juta.
EBIT normal di program frequent-flyer Qantas naik 14% menjadi Aus$ 231 juta seiring tagihan naik hingga Aus$ 1,2 miliar. Pendapatan kargo anjlok Aus$ 17 juta menjadi Aus$ 45 juta, mencerminkan penurunan global di pasar kargo.
Qantas juga menghadapi serangan domestik dari Virgin Australia yang direstrukturisasi dan rebranding di bawah mantan pimpinan Qantas, John Borghetti. Namun Qantas berusaha mengesampingkan keputusannya membatalkan pesanan dengan mengatakan bahwa langkah penghematan tersebut sudah sesuai.
Hari ini Qantas mencatat laba sebelum pajak Aus$ 95 juta (Rp 950 miliar), sesuai dengan pedoman perusahaan di kisaran Aus$ 50 – 100 juta dan melebihi rata-rata perhitungan tujuh analis yang dikumpulkan Dow Jones Newswires yakni Aus$ 65,9 juta.
CEO Qantas Alan Joyce menekankan bahwa 2011-2012 merupakan tahun yang unik dan perusahaan telah mencapai titik perubahan. Joyce mengatakan dia mengharapkan inisiatif diumumkan tahun keuangan lalu yang diperkirakan menghemat Aus$ 300 juta saat diimplementasikan sepenuhnya demi kemajuan yang signifikan. Hal ini meliputi konsolidasi markas-markas pemeliharaan berat dan pengurangan sekitar 2.800 tenaga kerja.
“Kami yakin bisnis berjalan sesuai rencana demi mencapai target yang sudah ditetapkan, yakni bisnis internasional balik modal dalam tiga tahun atau tahun keuangan 2015. Kami berkomitmen pada target ini,” kata Alan Joyce, dikutip dari TheAustralian, Kamis (23/8/2012).
Keputusan membatalkan pesanan Dreamliner tidak berpengaruh pada pengantaran 15 pesawat 787-788 di paruh kedua tahun 2013. Namun berarti pada penundaan kedatangan 787-789 yang lebih besar hingga dua tahun.
Kedatangan pesawat 737-738 untuk Jetstar berarti Airbus A330 perlahan-lahan akan dipindahkan ke Qantas dan menggantikan Boeing 767 yang sudah tua. Joyce mengatakan, Qantas kini memiliki 308 pesawat dengan usia terbang rata-rata 8,3 tahun, dibandingkan 135 ketika masih diprivatisasi.
(ang/ang)
