"(Pembangunan Monorel) Telat," kata Pemerhati Kebijakan Pemukiman, Perkotaan dan Lingkungan Tjuk Kuswartojo kepada detikFinance, Jumat (31/8/2012).
Seharusnya, realisasi pembangunan trasportasi masal sudah hadir saat wacana Jabotabek (sekarang Jabodetabek) muncul ke publik. Yakni menumbuhkan Jakarta yang didukung oleh kota-kota satelit seperti Serpong dan Karawang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski terlambat, hadirnya transportasi massal tentu menjadi harapan baru masyarakat. Proses pengurangan beban jalan yang kini makin padat dengan kendaraan pribadi diharapkan terjadi.
"Siapapun Gubernurnya, pembangunan (monorel atau MRT) investasinya harus besar-besaran. Kalau uangnya nggak ada, yang terjadi adalah perbaikan-perbaikan saja. Jadi bukan memecahkan masalah, tapi menunda permasalahan," ucap Dosen ITB ini.
Seperti diketahui pemerintah kini serius menggarap proyek kereta api. Pertama MRT tahap I sepanjang 23,8 kilometer, rencananya menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran HI, koridor utara-selatan, jalur MRT terdiri dari 13 stasiun MRT.
Kedua, Monorel milik Adhi Karya. Rute monorel ini melintasi Tanah Abang-Thamrin City-Grand Indonesia-Dukuh Atas (Ketemu MRT)-Four Seasons Hotel-Taman Rasuna Said-Casablanca-Menara Kadin-Mega Kuningan-Ciputra World-Sampoerna Strategic-Semanggi-SCBD-Ratu Plaza-Senayan. Monorel ini dapat menampung 800 penumpang sekali angkut.
(wep/hen)











































