"Mengapa dalam krisis global, ekonomi kita survive dan aman? Saya ingin mengatakan 4 pelajaran penting," kata SBY saat perayaan ulang tahun HIPMI ke-40 di Balai Kartini Jakarta, Jakarta, Jumat (31/8/2012).
Pelajaran pertama, SBY menjelaskan reformasi yang telah terjadi di Indonesia pasca krisis 1998 telah memperkokoh sistem perekonomian Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, SBY mengaku kerjasama dan kolaborasi antara pemerintah dan elemen bangsa dinilai sangat efektif dalam mengatasi dan mencegah krisis ekonomi.
"Pada tahun 2008 sampai 2009, kita mampu bekerjasama dan berkolabarasi, antara pemerintah pusat, Pemda, dunia usaha, ekonom. Pada krisis 1998 dulu terjadi kepanikan dan berjalan sendiri. Pada 6 Oktober 2008 kita bertemu, dunia usaha dan ekonom untuk duduk bersama," cetusnya.
Ketiga, SBY mengatakan, sikap tanggap pemerintah dan kebijakan yang diambil pemerintah dalam menghadapi krisis di 2008 sangat tepat sehingga terhindar dari imbas krisis global.
"Respons kebijakan yang kita pilih dan jalankan waktu itu tidak salah. Pada 1998 ada salah resep dari IMF, ada policy keamanan yang tidak memungkinan. Pada krisis 2008, kita memilih strategi yang penting rakyat bisa membeli," imbuhnya.
Terakhir, SBY menjelaskan faktor keyakinan dan kepercayaan diri dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi saat krisis di 2008 adalah kunci Indonesia bebas dari perangkap krisis.
"Faktor keempat, faktor keyakinan dan kepercayaan diri," sahutnya.
SBY kembali menegaskan, keempat faktor tersbeut dilakukan pemerintah saat menghadapi krisis ekonomi, sehingga tidak terjebak dalam krisis 1998. SBY menambahkan, 4 faktor tersebut dapat menjadi pedoman bagi seluruh elemen bangsa saat krisis menghampiri Indonesia.
"Itulah 4 faktor. Kalau itu yang menjadi faktor penolong kita. Itu yang perlu kita lakukan saat Indonesia mengalami kesulitan," tutupnya.
(hen/dnl)











































