Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebutkan ekspor bulan Juli tahun ini sebesar US$ 16,15 miliar atau turun 7,27 persen dibandingkan Juli 2011.
"Untuk ekspor migas sebesar US$ 2,98 miliar, sementara ekspor non migas US$ 13,17 miliar," ujar Suryamin dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (3/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspor terbesar adalah bahan bakar mineral sebesar US$ 15,95 miliar dan lemak dan minyak hewan nabati senilai US$ 12,5 miliar.
Suryamin menyebutkan pangsa ekspor terbesar adalah ke China yaitu sebesar US$ 12,02 miliar, Jepang sebesar US$ 10,24 miliar, dan AS sebesar US$ 8,74 miliar. Kemudian ekspor ke negara Asean sebesar US$ 18,04 miliar untuk pangsa pasar sebesar 20.05 persen dan Uni Eropa senilai US$ 10,67 miliar dengan pangsa pasar 11,86 persen.
Sementara itu, impor Juli 2012 sebesar US$ 16.33 miliar atau naik 0,75 persen dibanding Juli 2011. Untuk impor migas sebesar US$ 2,73 miliar atau turun 18,51 persen dibanding Juni 2012 dan impor non migas sebsar US$ 13,6 miliar atau naik 1,66 persen.
"Total impor Januari hingga Juli 2012 sebesar US$ 112,78 miliar atau naik 13,02 persen pada periode sama tahun lalu dengan impor non migas sebesar US$ 88,61 miliar atau naik 15,46 persen pada periode sama tahun lalu," ujarnya.
Impor terbesar, lanjut Suryamin, adalah Mesin dan peralatan mekanik US$ 16,67 miliar, serta Mesin dan peralatan listrik sebesar US$ 11,31 miliar.
Negara asal barang impor terbesar adalah China dengan nilai perdagangan US$ 17,37 miliar, Jepang sebesar US$ 13,94 miliar, Thailand sebesar US$ 8,86 miliar.
"Total share ketiga negara tersebut adalah 43,08 persen," jelasnya.
Sedangkan impor dari negara Asean senilai US$ 19,17 miliar dengan pangsa pasar 21,64 persen, serta impor dari negara Uni Eropa sebesar US$ 7,93 miliar dengan pangsa pasar sebesar 8,95 persen.
Dengan realisasi perdagangan tersebut, Suryamin menyatakan pada bulan Juli 2012 terjadi defisit kembali sebesar US$ 176,5 juta, meski secara kumulatif masih surplus sebesar US$ 335,5 juta.
"Jadi surplus kembali menipis karena terjadinya defisit pada bulan Juli ini," tandasnya.
(nia/dru)











































