MDRN adalah adalah induk usaha MPI dengan kepemilikan penuh. "Penambahan outlet baru masih kami fokuskan di Jakarta," kata Direktur Keuangan PT Modern Internasional Tbk (MDRN), Donny Sutanto saat berbincang dengan detikFinance, Selasa (4/9/2012).
Saat ini manajemen masih belum membuka kepemilikan melalui waralaba, hingga total outlet 7-Eleven yang telah berdiri dimilik penuh MDRN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan mengestimasi akan menghabiskan dana US$ 300 ribu atau Rp 2,82 miliar untuk setiap satu outlet. "Memang sesuai ada yang diprospektus, sebagian besar 70% untuk 7-Eleven. Nilainya tergantung realisasi rights issue," tegasnya.
"Konsep kami adalah resto atau cafe. Dan kita lihat, ini dapat diterima masyarakat. Kita yakin. Performance makin baik, ini terlihat dari kontribusi 7-Eleven kepada perusahaan telah meningkat dari 35% menjadi 50% pada laporan terakhir kami," kata Donny.
Meski 7-Eleven sangat prospektif, Donny mengaku tidak akan meninggalkan bisnis-bisnis lainnya seperti jasa cetak, solusi dokumen serta lainnya. "Kontribusi 7-Eleven makin besar, disamping cetak digital masih kami pertahankan," paparnya.
Perseroan sempat dikenal dengan jasa cetak fotografi dengan merek dagang Fujifilm. Namun seiring berkembangkan industri digital, Fujifilm pun meredup.
MDRN diketahui memiliki lima anak usaha. Selain Modern Putraindonesia dengan kegiatan utama perdagangan eceren produk fotografi, elektronik, telekomunikasi dan outlet 7-Eleven, perseroan juga memiliki PT Modern Photo Industry (MPI) yang bergerak di bidang investasi.
Tiga anak usaha lainnya adalah PT Modern Data Solusi (MDS) bidang solusi dokumen, PT Swadaya Mitra Serasi (SMS) bidang sewa beli, serta PT Fresh Food Indonesia (FFI) bidang makanan dan minuman. FFI adalah anak usaha terakhir MDRN yang didirikan pada 2011. FFI juga mendukung kegiatan usaha outlet 7-Outlet.
Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan menegaskan bahwa 7-Eleven mengantongi izin restoran atau rumah makan. Namun praktiknya keduanya menjalankan bisnis yang tak jelas, karena lebih condong sebagai ritel atau minimarket.
(wep/hen)










































