"Kebanyakan bukan diakibatkan oleh kekeringan tetapi karena penyakit atau sundep," ungkap Ketua Tani Karya Siaga Desa Rorotan, Jakarta, Rabu (5/9/2012)
Sundep atau bebelug biasa petani Rorotan menyebutnya merupakan suatu penyakit yang diakibatkan oleh ulat. Ulat ini akan menghabiskan sistem jaringan makanan pada padi hingga padi tidak bisa dipanen alias puso.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam 1 hektar biasanya petani di daerah Rorotan berhasil mendapatkan panen sebanyak rata-rata 14 ton gabah kering. Tetapi saat ini mereka hanya bisa menikmati 7 ton saja dari satu hektar tanah yang mereka sewa dengan sistem garapan.
"Rugi, ya rugi. Tetapi kalo dikatakan rugi jika penurunan produktivitas diatas 50%, 5 hari kemarin juga kita disini sudah mengalami kekeringan, tetapi hari ini aliran air dari kali Cakung Timur sudah mengalir," tutupnya.
Pengamatan yang dilakukan detikFinance di wilayah Rorotan memang tidak ada tanda-tanda kekeringan seperti apa yang diberitakan selama ini. Pihal kelurahan juga menepis pemberitaan bahwa Rorotan mengalami kekeringan.
"Anda bisa lihat, air mengalir, memang karena penyakit. Air sungai Cakung Timur masih cukup dan cukup untuk dialirkan," papar Petugas Kelurahan Rorotan yang menangani urusan pertanahan Ruspandi saat ditemui detikFinance.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), DKI Jakarta sebagai provinsi yang menghasilkan padi/beras walaupun tak besar. Selama Januari-April 2012, DKI Jakarta mampu menghasilkan beras 142 ton dari produksi gabah 217 ton.
Bahkan realisasi produksi beras di Jakarta masih mengalahkan produksi beras dan gabah Kepulauan Riau yang hanya 61 ton beras dari 95 ton gabah pada periode yang sama.
(wij/hen)










































