SBY Temui 40 Pengusaha Terkemuka Mongolia

SBY Temui 40 Pengusaha Terkemuka Mongolia

- detikFinance
Kamis, 06 Sep 2012 23:46 WIB
SBY Temui 40 Pengusaha Terkemuka Mongolia
Ulaanbaatar - "Volume perdagangan RI-Mongolia pada beberapa tahun terakhir ini mengalami peningkatan dan mencapai US$ 6 juta pada tahun 2011. Namun demikian, jumlah tersebut sangat kecil, apalagi jika dibandingkan dengan nilai perdagangan RI-RRT yang berjumlah lebih dari US$ 50 miliar. Oleh karena itu, Indonesia masih merupakan mitra dagang kecil Mongolia," demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada acara 'Indonesia-Mongolia Business Forum' yang diselenggarakan dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Indonesia ke Mongolia, seperti dikutip dari pernyataan Kedubes RI di Beijing, Kamis (6/9/2012).

Dalam pertemuan bisnis yang dihadiri sekitar 40 pengusaha terkemuka Mongolia dan sejumlah pengusaha Indonesia, Presiden SBY kemudian mendorong perlunya percepatan peningkatan nilai perdagangan RI-Mongolia dengan antara lain melakukan diversifikasi barang-barang perdagangan.

Kedua negara dapat memperluas dan meningkatkan nilai perdagangannya mengingat produk yang dihasilkan kedua negara bersifat komplementer. Barang-barang produk Indonesia seperti mie instan, biskuit, kopi, teh, gula, beras, obat-obatan, produk hewani, kelapa sawit, minyak olahan dan air mineral.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, Mongolia memiliki produk daging ternak yang dapat menjadi alternatif pilihan masyarakat Indonesia. Dan selaras peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia, kebutuhan akan daging ternak pun meningkat pesat.

"Tidak ada pilihan lain bagi kedua negara selain meningkatkan upaya fasilitasi pertumbuhan perdagangan dan menghapuskan hambatan perdagangan," demikian ditambahkan oleh Presiden SBY.

Sebagai langkah awal, Presiden SBY mendorong kehadiran pejabat Mongolia dan pengusaha terkemuka Mongolia untuk hadir pada Trade Expo yang diselenggarakan di Jakarta dan membentuk Indonesia-Mongolia Business Chamber. Selain itu pula Presiden SBY menyambut baik penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara Kadin Indonesia dan Mongolia yang dilakukan sebelum berlangsungnya Business Forum.

Sementara terkait kerjasama investasi, mengingat Indonesia dan Mongolia sama-sama memiliki sumber daya mineral dan energi yang melimpah, Indonesia dan Mongolia dapat bekerjasama dalam membangun dan memajukan industri mineral dan energi melalui investasi.

Dijelaskan oleh Presiden SBY, dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat peningkatan jumlah pengusaha Indonesia yang melakukan investasi di luar negeri, termasuk ke Mongolia. Karenanya dipandang perlu untuk meningkatkan interaksi dan permodalan guna menangkap peluang investasi.

Sementara itu menjawab pertanyaan dari seorang peserta business forum mengenai tanggapan Pemerintah Indonesia mengenai rencana Pemerintah Mongolia membangun pembangkit listrik secara bersamaan dan menjual hasilnya ke RRT, Presiden SBY mengemukakan dengan pengalaman yang dimiliki Pemerintah Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan dalam membangun pembangkit listrik 10 ribu megawatt dan rencana pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt berikutnya, Indonesia dapat berperan serta dalam pembangunan pembangkit listrik di Mongolia.

Β Menanggapi pertanyaan mengenai kesulitan masuknya barang-barang produk Indonesia ke Mongolia dan harus melalui negara ketiga, Presiden SBY menyampaikan mengenai perlunya melakukan langkah-langkah inovatif dengan antara lain membangun Indonesia-Mongolia Trading Hub, yang dapat dipergunakan kedua belah pihak sebagai sarana untuk melakukan perdagangan langsung.

Sebelumnya, dalam sambutannya, Menteri Luar Negeri Mongolia Luvsanvabdan Bold menyambut baik inisiatif Presiden SBY untuk menyelenggarakan acara Business Forum dalam rangkaian kunjungan kenegaraannya yang memperlihatkan keinginan yang sungguh-sungguh guna memperluas dan memprioritaskan kerjasama perdagangan dan investasi.

Sementara dalam sambutannya, Ketua BKPM M. Chatib Basri melaporkan mengenai telah ditandatanganinya sejumlah Nota Kesepahaman dalam kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Mongolia, yaitu 3 Nota Kesepahaman antar pemerintah (G-to-G) dan sebuah kesepahaman antar dunia usaha (B-to-B). Tiga Nota Kesepahaman antar pemerintah tersebut adalah Nota Kesepahaman antar Kementerian Luar Negeri RI dan Mongolia, Nota Kesepahaman di bidang pertanian dan kesepahaman di bidang investasi.

Adapun Nota Kesepahaman antar dunia usaha adalah Nota Kesepahaman yang ditandatangani Ketua KADIN Indonesia, Suryo Bambang Sulistio dan Wakil Ketua Kadin Mongolia, Magvan Oyunchimeg dan disaksikan oleh Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, dan Kepala BKPM M. Chatib Basri.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads