Jawa Barat Terancam Kekeringan, Jakarta Waspada

Jawa Barat Terancam Kekeringan, Jakarta Waspada

Wiji Nurhayat - detikFinance
Jumat, 07 Sep 2012 16:25 WIB
Jawa Barat Terancam Kekeringan, Jakarta Waspada
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Memasuki September 2012, intensitas hujan di Indonesia tidak merata. Pulau Jawa mencakup Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah mengalami intensitas hujan yang rendah.

Dirjen Sumber Daya Air Mohammad Hasan mengatakan, Jakarta terancam kekeringan karena sangat ketergantungan dengan air dari Jawa Barat yang debit airnya makin turun.

"Sifat hujan sampai dengan September 2012 di wilayah Indonesia memang masih di bawah normal khususnya Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, juga sebagian kecil Sumatera. Ini dilihat dari jumlah debit air yang berkurang di waduk besar dan embung," ungkap Hasan saat ditemui detikFinance di kantornya, Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Jumat (7/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut data yang diperlihatkan Kementerian PU, pemantauan waduk utama di Jawa Barat seperti Djuanda, Saguling, Cirata dalam keadaan penurunan debit air. Volume pemantauan sampai dengan 31 Agustus 2012 tercatat 1.071 juta meter kubik. Kapasitas normal biasanya 1.258 juta meter kubik, jadi ada penurunan debit air sebesar 18%.

"Jawa Barat memang waspada, dan secara tidak langsung akan mempengaruhi Jakarta, karena air Jakarta ya dari Jawa Barat alias Jatiluhur," katanya.

Air baku yang dipergunakan sebagai konsumsi di Jakarta adalah air yang sebagian besar berasal dari Waduk Jatiluhur. Distribusi untuk air konsumsi melewati waduk Jatiluhur ke Jakarta mengalami penurunan.

"Ada pengurangan air baku Jakarta biasanya dialirkan 16.000 meter kubik/detik tetapi saat ini hanya 10.000 meter kubik/detik," jelas Hasan.

Persediaan air baku yang dialirkan dari Waduk Jatiluhur ke berbagai titik termasuk Jakarta adalah 190.000 meter kubik/detik. Saat ini volume air di Waduk Jatiluhur hanya tersisa 1/2 miliar meter kubik/detik dan hanya bisa bertahan hingga Desember 2012.

"Masuk dalam tahap waspada dan harus ada efisiensi pemakaian," tutupnya.

(wij/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads