Meneg BUMN Informasikan Kebohongan Soal Indosat
Kamis, 02 Sep 2004 18:02 WIB
Jakarta - Direktur INDEF Imam Sugema menilai Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi telah melakukan kebohongan besar dengan mengatakan Indosat sedang merugi sehingga menjadi alasan untuk melakukan divestasi Indosat.Demikian disampaikan Direktur INDEF Imam Sugema dalam acara peluncuran dan bedah buku Divestasi Indosat Kebusukan Sebuah Rezim, karya Marwan Batubara di Prambanan Room, Hotel Sahid Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (2/9/2004).Turut hadir Mantan Komisaris Indosat Drajat Wibowo, Pengamat Ekonomi Revrisond Baswir, Dosen Falkutas Hukum UI Hudori Sitpompul dan Irawanto dari Iluni Jakarta."Sebelumnya, Laksamana selalu mengatakan bahwa Indosat merupakan perusahaan yang industrinya sedang sunset atau meredup. Itu adalah suatu kebohongan besar. Bagaimana mungkin suatu perusahaan yang sunset ternyata setahun kemudian pelanggannya naik 60 persen," kata imam.Imam menilai pemerintah telah gagal mengamankan aset berharga milik negara tetapi justru menjual aset tersebut ke luar negeri. "Yang paling bertanggungjawab jelas saja Meneg BUMN Laksamana Sukardi," tandasnya.Seharusnya, menurut Imam, Indosat tidak dijual hanya perlu suntikan dana dari APBN. "Buntinya dibawah kepemilikan baru mengalami keuntungan dan meningkat sampai 60 persen," imbuhnya.Imam juga menyoroti isi buku yang berisi tentang indikasi pejabat tinggi negara yang terlibat divestasi PT Indosat diantaranya, Presiden Megawati, Yusril Ihza Mahendra dan Todung Mulya Lubis.Dalam buku tersebut ditulis bahwa Presiden Megawati bertanggung jawab karena mengeluarkan peraturan pemerintah No. 30/2002 tanggal 16 Mei 2002 dan tidak berbuat apa-apa dalam pelaksanaan proses divestasi walaupun terjadi protes dari Serikat Pekerja.
(aan/)











































