Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan negara berkembang BRIC memiliki realisasi yang jauh berbeda dari target awalnya. Sementara Indonesia, dari target pertumbuhan sebesar 6,5 persen, hanya meleset 0,2 persen menjadi 6,3 persen dalam realisasinya.
"Kalau Indonesia dibanding BRIC, di antara negara berkembang yang besar apakah Brasil, China, Rusia, India, Indonesia itu adalah salah satu perekonomain yang defiasi ke bawah pertumbuhannya paling kecil. Misalnya India biasanya 8-9%, sekarang hanya 4% sekian, Brasil hanya 1% atau kurang, atau jauh dari kebiasaan. Nah kita kalau Indonesia biasanya kan 6,5%, tapi meleset ke 6,3% itu meleset tapi kecil, jadi kalau dari sesama emerging ekonomi kita masih kompetitif," ujar Bambang saat ditemui di tengah acara Investment Meeting, Jakarta, Senin (17/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, menanggapi upaya Amerika Serikat dalam menyelamatkan perekonomiannya dengan pembelian surat berharga (quantitative easing) 3, Bambang menilai hal tersebut dapat memberikan tanggapan positif di tengah pembahasan kebijakan ekonomi yang masih alot antara Partai Republik dan Demokrat.
"Kalau ada pengurangan pengangguran akan ada konsumen confidence. Kemudian, kebijakan fiskalnya, di AS sendiri diskusi anggarannya sangat alot karena perbedaan pendapat antara Republik dan Demokrat. Misalnya Republik mau pajak dikurangi, di sisi pengeluaran, Demokrat minta ditambah, ini akan menggantung sampai pemilu itu clear dan market akan bisa mendeteksi kebijakan anggaran AS ke depan, selama ini belum pasti, masih ada kekhawatiran," tandasnya.
(nia/hen)











































