Walah, Utang Pemerintah Naik Lagi Jadi Rp 1.957,2 Triliun

Walah, Utang Pemerintah Naik Lagi Jadi Rp 1.957,2 Triliun

Wahyu Daniel - detikFinance
Rabu, 19 Sep 2012 07:49 WIB
Walah, Utang Pemerintah Naik Lagi Jadi Rp 1.957,2 Triliun
Jakarta - Total utang pemerintah Indonesia hingga Agustus 2012 mencapai Rp 1.957,2 triliun. Dibanding akhir 2011, jumlah utang ini naik Rp 153,71 triliun.

Secara rasio terhadap PDB, utang pemerintah Indonesia berada di level 27% pada Agustus 2012.

Jika dihitung dengan denominasi dolar AS, jumlah utang pemerintah di Agustus 2012 mencapai US$ 246,74 miliar. Jumlah ini naik dari posisi di akhir 2011 yang mencapai US$ 198,89 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demikian data Ditjen Pengelolaan Utang Kemenkeu yang dikutip detikFinance, Rabu (19/9/2012).

Utang pemerintah tersebut terdiri dari pinjaman Rp 630,21 triliun dan surat berharga Rp 1.326,99 triliun. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp 7.226 triliun, maka rasio utang Indonesia per Agustus 2012 sebesar 27%.

Sementara rincian pinjaman yang diperoleh pemerintah pusat hingga akhir Agustus 2012 adalah:
Bilateral: Rp 384,66 triliun
Multilateral: Rp 219,79 triliun
Komersial: 24 triliun
Supplier: Rp 450 miliar
Pinjaman dalam negeri Rp 1,31 triliun

Sementara total surat utang yang telah diterbitkan oleh pemerintah sampai Agustus 2012 mencapai 1.326,99 triliun. Naik dibandingkan posisi di akhir 2011 yang sebesar Rp 1.859,43 triliun.

Berikut catatan utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap PDB sejak tahun 2000:

  • Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
  • Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
  • Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
  • Tahun 2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)
  • Tahun 2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)
  • Tahun 2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)
  • Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
  • Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
  • Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
  • Tahun 2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
  • Tahun 2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
  • Tahun 2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)
  • Agustus 2012: Rp 1.957,2 triliun (27%)

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan tengah mempersiapkan gerakan penghematan nasional. Gerakan ini diharapkan bisa jadi solusi lonjakan subsidi BBM bila tahun ini harga minyak dunia semakin melonjak dan cegah utang baru.

(dnl/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads