Harga Minyak Naik, Beban Subsidi Elpiji Pertamina Meningkat
Minggu, 05 Sep 2004 05:21 WIB
Jakarta -
PT Pertamina (Persero) dipastikan harus menanggung beban 'subsidi' elpiji seiring dengan meningkatnya harga minyak dunia belakangan ini. Menurut Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ari Soemarno, perusahaan harus menanggung setidaknya Rp 1.000-Rp 2.000 dari setiap kilogram elpiji yang dijualnya akibat kenaikan harga minyak tersebut. "Dengan harga minyak yang tinggi saat ini, harga elpiji meningkat menjadi Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogramnya. Sementara Pertamina hanya menjualnya Rp 3.000 per kilogram sudah termasuk pajak, jadi perusahaan memang harus mensubsidi," ujar Ari Soemarno di Kemayoran, Jakarta, Sabtu 4/9/2004).Pertamina sendiri, lanjutnya, berharap dapat segera menaikkan harga jual elpiji. Namun hal tersebut tergantung atas keputusan pemerintah. "Kita mau naikkan harga untuk disesuaikan dengan margin yang cukup, tapi itu kan tergantung keputusan pemerintah,"jelasnya.Menurut Ari, kebutuhan elpiji domestik mencapai 1 juta ton per tahun. Untuk mencukupinya Pertamina harus mengimpor sekitar 20 persen karena kilang dalam negeritidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut. Selama ini penjualan elpiji memang dilakukan langsung oleh Pertamina, tanpa campur tangan pemerintah. Pertamina mengaku bisnis elpijinya masih merugi karena pihaknya menjual elpiji dengan harga jauh dibawah harga pasar. Namun demikian, Ari menegaskan di era liberalisasi bisnis migas pasca 2005, Pertamina akan mengembangkan bisnis elpiji karena potensinya yang cukup besar.
(fab/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































