Laks Persoalkan Investasi PSI ke Perbankan
Rabu, 08 Sep 2004 12:30 WIB
Jakarta -
Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Laksamana Sukardi, mempersoalkan investasi anak perusahaan Pertamina, PT Pertamina Saving and Investment (PSI), di Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) dan Goro, hingga membuat Pertamina kebobolan dana sekitar Rp 200 miliar.Menurut Laks, kebijakan investasi yang dilakukan PSI sangat tidak kompeten dengan bisnis Pertamina yang bergerak di sektor migas. Namun ia tidak menegaskan apakah anak perusahaan Pertamina ini akan ditutup atau tidak."Pertamina ngapain punya anak perusahaan yang bergerak di perbankan. Memang itu bukan bidangnya, ya jebol. Governance-nya juga kurang baik. Jadi itulah kenapa saya minta Widya Purnama (dirut Pertamina-red) mulai membersihkan Pertamina. Kalau orang yang lama di dalam pasti pernah terlibat ini-itu dan akhirnya tidak jalan-jalan (restrukturisasi)," tandas Laks sebelum rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII DPR, Rabu (8/9/2004).Mengenai kelanjutan kasus tersebut, Laks mengaku, pihaknya telah menyerahkan kepada aparat berwajib yang dipercaya bisa menentukan keputusan terbaik atas kasus itu. Seperti halnya Widya Purnama, Laks menolak menyebutkan oknum PSI yang diduga terlibat kasus korupsi dimaksud."Saya nggak berani ngomong orang per orang, nanti kalau salah kan kasihan. Yang jelas ini kan baru satu (kasus), tapi saya bilang ke Pak Widya, bersihkan saja semuanya perusahaan yang bukan inti," tegas Laks, yang juga menjabat Menteri Negara BUMN.Kompetensi bisnis Pertamina, lanjut Laks, sebenarnya di sektor migas. Dengan demikian, Pertamina harus terus mencari dan mengembangkan sumur dan ladang migas untuk dieksplorasi. Sementara, bisnis lain seperti kepemilikan saham atau penyertaan di bank dianggap bukan kompetensi Pertamina."Kompetensi Pertamina bukan di situ, nanti malah membebankan keuangan perusahaan, kan kasihan. Jadi saya kira kita akan restrukturisasi anak-anak perusahaan Pertamina, sekaligus kita lihat kalau ada macam-macam di situ," katanya tanpa menjelaskan lebih jauh.Secara tidak langsung, Laks juga mengakui ada masalah di anak perusahaan Pertamina lainnya, selain PSI. Namun ia meminta semua pihak tidak berpikiran negatif terlebih dulu terhadap Pertamina dan anak perusahaannya. Ia pun meminta masukan dan informasi jika ada praktek yang tidak benar di tubuh Pertamina dan anak perusahaannya.Saat ditegaskan kembali apakah PSI akan ditutup, Laks hanya mengatakan, "Wong perbankan saja susah, masak Pertamina mengelola Pertamina Saving and Investment. Perbankan itu diatur oleh BI dan sudah mengalami masalah besar sehingga perlu diawasi. Kalau Pertamina kan tidak melihat kompetensi, waktu dan fokus."
(ani/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































