"Defisit perdagangan dengan Brunei disebabkan karena Indonesia lebih banyak impor minyak dari Brunei sedang ekspor non-migas kita ke Brunei sangat terbatas dalam jenis barang," ungkap Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto di Menara Kadin, kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (1/10/2012).
Nilai ekspor ke Brunei di 2011 hanya sebesar US$ 81,689,400 yang kesemuanya terdiri dari perdagangan non-migas. Sedangkan impor minyak dari Brunei pada tahun yang sama sebesar US$ 189,430,800.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalimantan merupakan wilayah dengan kekayaan sumber daya alam yang masih membutuhkan investasi untuk pembangunan infrastruktur, industri hilir, bahkan pembangunan manusia, kita perlu menarik investor Brunei," katanya.
Menurut Suryo, peran Kadin daerah sangat strategis untuk diperhatikan. untuk itu komite Brunei perlu membuat program yang lebih rinci bersama Kadin daerah di Kalimantan. Selain perdagangan dan investasi, Suryo juga mengingatkan akan pentingnya peluang dari sektor pariwisata.
"Di Indonesia bagian barat sudah ada Pulau Batam dan Kepulauan Riau sebagai zona industri untuk melayani dan memanfaatkan potensi Singapura, dengan pola pikir yang sama bukan tidak mungkin menjadikan Kalimantan memerankan fungsi yang sama layaknya kedua tempat tersebut," tutupnya.
(wij/dnl)










































