"Saya musti akui berat, kalau kita bisa 6,3-6,4% saja untuk bertahan, kita musti katakan kita musti bersyukur," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (4/10/2012).
Menurut Chairul yang biasa disapa CT ini, hal ini disebabkan karena adanya perlambatan di sektor konsumsi yang selama ini sangat besar kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat menurunnya iklan di media-media massa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan terlihat, misalnya pemasangan iklan di media saja, pada bulan Agustus-September ini, relatif terjadinya penciutan, karena iklan itu kan reflected konsumsi, produsen itu terutama consumer goods, sangat bergantung pada iklan di media, kalau terjadi penurunan artinya ada sedikit perlambatan di sektor konsumsi," tambahnya.
Namun, lanjut Chairul, potensi pertumbuhan ekonomi masih bisa digenjot jika pertumbuhan investasi bisa meningkat melebihi yang realisasi yang telah tercapai saat ini.
"Tapi kalau investasinya lebih besar dari yang diperkirakan, itu kan agregat, kumpulan keseluruhan, kalau ada satu yang menurun, tapi satu lagi tumbuh dari yang diperkirakan akumulasinya jadi lebih tinggi, belum tahu, tapi saya lihat indikator-indikator yang riil di pasar," tandasnya.
(nia/hen)










































