Teror Bom Terjadi, Target Wisatawan Diyakini Tetap Tercapai
Kamis, 09 Sep 2004 15:04 WIB
Jakarta - Meski teror bom kembali terjadi, Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Ardika tetap optimis target wisatawan sebanyak 5,1 juta orang pada tahun ini bisa tercapai. Ia merujuk pada target pertumbuhan pariwisata yang ditetapkan sebesar 13 persen sepanjang tahun, ternyata sudah mencapai 31 persen di akhir Juni 2004."Memang ada bom, tapi kita tetap optimis karena saya yakin masyarakat kita adalah masyarakat yang mampu menjaga ketenangan. Jadi kita harus tetap tenang dan serahkan kepada aparat keamanan," kata Ardika saat ditemui di Hotel Hilton, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (9/9/2004).Menurut Ardika, pemerintah sejauh ini cukup berpengalaman menangani kasus-kasus teror bom, setelah beberapa kali terjadi peristiwa bom seperti bom Bali dan bom Marriott.Mengenai kemungkinan dampak travel warning, dalam pandangan pria asal Bali ini, travel warning sudah ada sejak dulu dan akan terus ada. Oleh karena itu, yang jadi perhatian utama adalah kemampuan seluruh masyarakat untuk tetap menjaga ketenangan dan keamanan.Sebelumnya, Ardika mengungkapkan, hingga semester pertama 2004, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia melalui 13 pintu masuk utama sudah mencapai 2,5 juta orang atau sekitar 40 persen dari target yang ditetapkan. Sisanya sebesar 60 persen diharapkan bisa dicapai pada semester kedua tahun ini.Namun pemerintah tetap menargetkan masuknya wisatawan sebanyak 15-20 persen dari pintu-pintu lain di luar 13 pintu masuk utama. "Jadi rasanya kita optimis angka 5,1 juta itu akan terpenuhi. Ini karena suasana di Indonesia cukup kondusif sehingga ini memberi sinyal positif," jelas dia.Pengembangan PariwisataTerkait pengembangan pariwisata, dijelaskan Ardika, di masa mendatang pemerintah akan mengembangkan eco-tourism melalui 3 pola yaitu memposisikan Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi tujuan kapal-kapal pesiar, bukan lagi sekadar tempat singgah.Kedua, menggerakkan kerjasama pariwisata di kawasan regional misalnya dengan Australia dan Papua nugini. Ketiga, mengembangkan tipologi kapal-kapal tradisional sehingga bisa dikembangkan menjadi kapal pesiar.Selain itu, pihaknya juga akan memanfaatkan pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism). Kemudian, Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata juga akan bekerjasama dengan Departemen Perikanan dan Kelautan dalam pengembangan potensi di pulau-pulau kecil.
(ani/)











































