Demikian disampaikan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan seperti dikutip dari situs Kemenhub, Kamis (18/10/2012)
"Sebagai tindak lanjutnya, saat ini Ditjen Perkeretaapian sedang melaksanakan Feasibility Study untuk penyusunan penetapan Trase (Basic Design)," kata Tundjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tundjung menambahkan, pembangunan prasarana perkeretaapian pada tahap awal di Pulau Batam ini akan menghubungkan kawasan industri di Pulau Batam dengan Pelabuhan maupun Bandara di Pulau Batam.
Rencana jaringan kereta itu mencakup Batam Center β Batu Aji β Tanjung Uncang sepanjang 17,7 km dan Bandara Hang Nadim β Batu Ampar sepanjang 19,6 km dengan perkiraan biaya sekitar Rp 2,4 triliun.
"Pada tahun 2014 hingga tahun 2016 akan dilaksanakan pembangunan prasarana perkeretaapian (pekerjaan konstruksi termasuk pengadaan lahan), sehingga direncanakan pada tahun 2017 sudah dapat dioperasikan," katanya.
Tundjung juga menyampaikan bahwa saat ini sedang dibentuk Gugus Tugas (Task Force) yang anggotanya direncanakan terdiri dari, Kementerian Perhubungan (Ditjen Perkeretaapian, Ditjen Perhubungan Udara, dan Pusat Kajian Kemitraan Pelayanan Jasa Transportasi), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bapenas dan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.
"Tim tersebut dibentuk untuk mengawasi pengembangan dan pembangunan perkeretaapian di Pulau Batam sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah ditetapkan," katanya.
Sebelumnya antara Ditjen Perkeretaapian Kemenhub dengan pihak BP Batam telah melaksanakan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian di Pulau Batam pada 27 Januari 2012.
(hen/dnl)











































