"Saya tidak segan-segan menutup dan mencabut izinnya jika mereka (pengelola) menolak. Ini demi melindungi UKM agar tidak semakin terpuruk. Kalau tetap membandel ya mau bagaimana lagi (ditutup)", kata Badingah di kantornya Jl. Brigjen Katamso No.1 Wonosari, Kamis (18/10/2012).
Menurut bupati yang selalu berjilbab ini, pertumbuhan toko modern dan swalayan yang semakin pesat seharusnya bisa menjadi solusi bagi puluhan UKM yang selama ini terkendala masalah pemasaran. Ia meminta pengelola toko modern ikut memasarkan produk-produk asli Gunungkidul sekaligus sebagai pendamping usaha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tindakan tegas Badingah ini terkait semakin menjamurnya toko modern dan syawalan di kabupaten Gunungkidul. Bahkan Pemkab menetapkan lima kecamatan tertutup untuk pendirian toko modern karena sudah penuh. Di lima kecamatan yakni Wonosari, Playen, Semin, Karangmojo, dan Ponjong saat ini ada 37 toko modern yang terdiri atas 12 toko modern jejaring dan 25 toko modern lokal.
Disatu sisi, Kabupetan Gunungkidul memiliki puluhan UKM dengan ratusan produk jenis kerajinan dan makanan olahan yang terkendala pemasaran. Produk UKM itu diantaranya kerajianan batik topeng, kerajinan bambu, perak dan tembaga. Selain itu UKM lainnya memproduksi makanan olahan seperti abon lele, kacang mete, kerupuk, ceriping pisang dan jahe instan.
"Kita minta pelaku UKM yang ditolak agar melapor ke saya, jadi nanti bisa kita panggil pengelolanya. Tapi kita juga mengingatkan para pelaku UKM meningkatkan kualitas produknya, jangan asal jadi biar bisa bersaing dengan produk luar daerah," kata Badingah.
(hen/hen)










































