China Geram Dituduh Berdagang 'Curang' oleh Obama dan Romney

China Geram Dituduh Berdagang 'Curang' oleh Obama dan Romney

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Selasa, 23 Okt 2012 17:12 WIB
China Geram Dituduh Berdagang Curang oleh Obama dan Romney
Beijing -

Pemerintah China geram setelah dituduh main curang dalam melakukan perdagangan bersama Amerika Serikat (AS). Tuduhan itu dilontarkan dua kandidat calon presiden AS, Barack Obama dan Mitt Romney.

Keduanya sudah bersumpah untuk meminta China mengikuti aturan dagang AS tidak seperti yang sudah dilakukannya selama ini dalam debat presidensial terakhirnya di Florida. Bahkan Romney menuduh China melanggar beberapa aturan perdagangan dengan AS.

"Politisi AS, dari partai manapun, harus melihat pertumbuhan ekonomi China secara objektif dan rasional, dan seharusnya melakukan sesuatu demi hubungan baik serta kerjasama China-AS," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Hong Lei dikutip AFP, Selasa (23/10/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perkembangan kerjasama China-AS berjalan dengan baik karena adanya kepentingan di kedua belah pihak serta masyarakatnya, hubungan ini juga kondusif bagi stabilitas dan ketentraman regional serta dunia," katanya.

Dalam debat presidensial itu, berulang kali Romney menyatakan jika ia terpilih, makan ia akan mendeklarasikan China sebagai negara yang memanipulasi suku bunga pada hari pertamanya sebagai presiden AS.

Ia menuduh pemerintah China sudah menahan nilai tukar Yuan serendah mungkin sehingga bisa melakukan ekspor dengan biaya murah.

"Mereka mencuri ketersediaan lapangan pekerjaan. Mereka juga mencuri properti, paten, desain, teknologi, meretas ke jaringan komputer kita," kata Romney.

Sementara Obama bersumpah akan melanjutkan kerjasam dengan negeri tirai bambu itu tapi dengan target mengurangi defisit perdagangan yang tahun lalu hampir mencapai US$ 300 miliar alias Rp 2.700 triliun.

"China adalah mitra potensial di komunitas internasional jika mau mengikuti aturan," kata Obama.

Debat yang menjadi perhatian banyak mata di dunia ini menyulut kemarahan media-media massa di China.

"Niat atau tidak, partai demokrat atau republik, presiden AS selanjutnya harus sedikit menghormati China dalam kampanyenya," kata koran lokal Xinhua dalam salah satu kolomnya.

"Kedua kandidat presiden itu bersumpah pada debat pertama hingga ketiga kalinya... mereka akan memaksa Beijing untuk bermain sesuai aturan bilateral," tambahnya.

"Akan tetapi, aturan tersebut adalah aturan yang pro Amerika," jelasnya.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads