Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) masih terus mengkaji rencana pembangunan sarana transportasi Mass Rapid Transit (MRT). Jokowi tak mau salah langkah sehingga MRT ini nantinya malah tidak laku.
"Kita akan segera mengeksekusi. Tapi saya harus tahu kenapa harus dimulai dari Lebak Bulus saya harus tahu. Siapa nanti yang naik dari Lebak Bulus ke Kota dan tengah kota. Jangan sampai nanti MRT sudah diputuskan, yang naik tidak banyak, perusahaan rugi kemudian tidak ada uang untuk mengoperasikan, ini banyak terjadi di luar ada 3 atau 4 tempat yang kejadiannya seperti itu karena tidak terintegrasi," tutur Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Senin (29/10/2012).
Dikatakan Jokowi, dirinya ingin secepatnya mengeksekusi atau menjalankan proyek MRT atau bahkan proyek monorel di Jakarta. Namun ia harus memastikan kajian dibuat dengan benar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini yang mau saya pastikan bahwa semuanya terintegrasi, jangan sampai membangun sesuatu di situ tidak ada area-area pendukung. Jadi harus tetap terkoneksi, artinya ini ada rusun, di sini juga mesti ada transportasi massalnya. Rusun pun jangan hanya satu, ada puluhan atau ratusan. Sehingga ini harus terkoneksi, nanti MRT-nya penuh penumpangnya monorelnya juga penuh. Sehingga inilah yang namanya program yang terintegrasi," papar Jokowi.
Pada 22 Oktober lalu, Jokowi telah meminta paparan dari pihak PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta soal rencana pembangunan proyek tersebut. Namun Jokowi belum bisa menangkap pemaparan tersebut.
"Dari paparan awal saya belum menangkap, saya belum bisa menangkap sebetulnya golnya ke mana. Karena mestinya saya mengerti dong kenapa jalur itu didahulukan pertama. Kedua return on investment-nya seperti apa. Saya harus mengerti semuanya," tegas Jokowi.
Dirut PT Mass Rapid Transit Jakarta Tribudi Rahardjo sebelumnya mengaku, belum juga mendapat persetujuan dari Japan International Cooperation Agency (JICA) soal proyek ini. Segala proses tender masih dalam proses evaluasi.
"Kita ikuti keputusan gubernur, sekarang prosesnya sedang berjalan. Apa yang terbaik untuk masyarakat, pasti dilanjutkan gubernur. Yang pasti beliau pertimbangkan dari segala aspek," kata Tribudi waktu itu.
Diberitakan sebelumnya PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta dan Pemerintah Kota Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan nominasi 2 konsorsium yang akan mengerjakan pembangunan jalur terowongan bawah tanah MRT Jakarta. Dua konsorsium ini disaring dari 5 konsorsium sebelumnya yang sudah dinyatakan lolos prakualifikasi.
Ada dua calon konsorsium untuk jadi nominasi pengerjaan proyek jalur bawah tanah yaitu Obayashi bersama Wijaya Karya (Wika) dan Sumitomo bersama Hutama Karya (HK). Proyek pengerjaan jalur bawah tanah disinyalir akan menghabiskan biaya Rp 4-4,5 triliun mencakup 3 paket.
Secara total jumlah paket proyek MRT Jakarta yang ditawarkan pada calon konsorsium berjumlah 8 paket yang mencakup 3 paket proyek bawah tanah, 3 paket proyek layang, 1 paket penyediaan kereta, dan 1 paket penyediaan sistem.
"Ada 3 paket jalur underground (bawah tanah) sudah ada calon konsorsiumnya yaitu dari pihak Jepang dan BUMN. Ada 2 calon konsorsium yang sudah kita lakukan cek dan ricek baik dalam segi administrasi maupun kelayakan, dan ada 1 konsorsium yang menangkan 2 paket," kata Tribudi saat konferensi pers di Balai Kota Jakarta, Jumat (28/9/2012).
Namun ternyata Pemprov DKI yang saat ini dipimpin Jokowi belum menentukan pihak pemenang tender proyek MRT ini.
(dnl/hen)











































