Total Ekspor RI September 2012 Turun 9,35%

Total Ekspor RI September 2012 Turun 9,35%

- detikFinance
Kamis, 01 Nov 2012 11:56 WIB
Total Ekspor RI September 2012 Turun 9,35%
Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyebutkan ekspor bulan September sebesar US$ 15,9 miliar atau turun 9,35 persen dibandingkan September 2011 yang sebesar US$ 17,54 miliar.

"Untuk ekspor migas sebesar US$ 2,77 miliar atau turun 0,46 persen dari bulan Agustus 2012, sementara ekspor non migas US$ 13,13 miliar atau naik 11,26 persen dari Agustus 2012," ujar Suryamin dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Senin (1/11/2012).

Total nilai ekspor dari Januari hingga September 2012 sebesar US$ 143 miliar atau turun 6,06 persen pada periode yang sama tahun lalu. Ekspor non migas sebesar USD 114,36 miliar atau turun 5,35 persen pada periode yang sama tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekspor terbesar adalah bahan bakar mineral sebesar USD 19,74 miliar dan lemak dan minyak hewan nabati senilai USD 16,09 miliar.

Suryamin menyebutkan pangsa ekspor terbesar adalah ke China yaitu sebesar US$ 15 miliar, Jepang sebesar US$ 12,98 miliar, dan AS sebesar US$ 11,08 miliar. Kemudian ekspor ke negara Asean sebesar US$ 23,06 miliar untuk pangsa pasar sebesar 20,17 persen dan Uni Eropa senilai US$ 13,47 miliar dengan pangsa pasar 11,78 persen.

"Kondisi ini tidak terlalu mengkhawatirkan karena ekspor sudah mulai naik," ujarnya.

Sementara itu, impor September 2012 sebesar US$ 15,35 miliar atau naik 1,19 persen dibanding September 2011 sebesar USD 15,17 miliar. Untuk impor migas sebesar USD 3,44 miliar atau naik 11,12 persen dibanding Agustus 2012 sebesar US$ 3,31 miliar dan impor non migas sebsar USD 11,91 miliar atau naik 13,39 persen dibandingkan impor Agustus 2012 yang sebesar US$ 10,50 miliar.

"Total impor Januari hingga September 2012 sebesar US$ 141,97 miliar atau naik 9,18 persen pada periode sama tahun lalu dengan impor non migas sebesar US$ 111,02 miliar atau naik 11,34 persen pada periode sama tahun lalu," ujarnya.

Impor terbesar, lanjut Suryamin, adalah Mesin dan peralatan mekanik US$ 21,18 miliar, serta Mesin dan peralatan listrik sebesar US$ 14,15 miliar.

Negara asal barang impor terbesar adalah China dengan nilai perdagangan US$ 21,43 miliar, Jepang sebesar US$ 17,29 miliar, Thailand sebesar US$ 8,58 miliar.

"Thailand yang besar masih impor kendaraan. Seandainya masyarakat lebih memilih kendaraan yang diproduksi di sini maka nilainya impor ini akan berkurang," ujar Suryamin.

Sedangkan impor dari negara ASEAN senilai US$ 23,85 miliar dengan pangsa pasar 21,48 persen, serta impor dari negara Uni Eropa sebesar US$ 10,2 miliar dengan pangsa pasar sebesar 9,19 persen.

Dengan realisasi perdagangan tersebut, Suryamin menyatakan pada bulan September 2012 terjadi surplus kembali sebesar US$ 552,9 juta, sehingga secara kumulatif surplus sebesar US$ 1,03 miliar.

"Jadi surplusnya lebih tinggi dibandingkan bulan Agustus lalu yang hanya sekitar US$ 223 juta, bulan ini sudah US$ 552,9 juta. Semoga bergerak terus ke depan agar ekonomi lebih baik," tandasnya

(nia/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads