Badai Ivan, Harga Minyak Melambung Jadi US$ 45/barel

Badai Ivan, Harga Minyak Melambung Jadi US$ 45/barel

- detikFinance
Rabu, 15 Sep 2004 13:56 WIB
Jakarta - Badai topan Ivan semakin memporakporandakan harga minyak mentah dunia hingga ke level US$ 45 per barel. Ini dikarenakan sekitar 60 persen produksi minyak mentah di Teluk Mexico terhenti dan setidaknya 5 kilang minyak di sepanjang Pantai AS akan ditutup untuk mengantisipasi amukan badai yang dahsyat ini. Faktor lain yang turut mempengaruhi melonjaknya kembali harga minyak mentah adalah terganggunya ekspor minyak mentah dari Irak sehubungan dengan sabotase di sejumlah pipa-pipa minyak. Selain itu juga dipicu oleh keluarnya data resmi tentang cadangan minyak mentah AS sekitar 7 pekan kedepan yang diperkirakan akan terus menurun. Tercatat minyak jenis light crude naik US$ 40 sen menjadi US$ 44,79 per barel pada posisi terakhirnya, Rabu (15/10/2004). Perusahaan-perusahaan minyak di AS telah menghentikan lebih dari 1 juta barel per hari atau sekitar 61 persen produksi minyak di Teluk Mexico yang merupakan 25 persen total produksi minyak AS. Selain itu produksi gas juga berkurang setelah ribuan pekerja perusahaan minyak tersebut dievakuasi. Diperkirakan sekitara 985.000 barel per hari kapasitas kilang di Louisiana dan Mississipi juga akan ditutup untuk mengantisipasi badai itu. "Yang menjadi keprihatinan kami adalah potensi dari banjir di kilang-kilang itu dan kerusakan lain yang dapat memberi dampak jangka panjang pada produksi," ujar Ed Silliere, pialang pada Energy Merchant seperti dilansir Reuters, Rabu (15/9/2004). Sementara para menteri negara-negara OPEC saat ini memulai pertemuannya di Wina, Austria, untuk membahas masalah kenaikan kuota produksi. Namun dikabarkan saat ini mereka belum mengambil keputusan apapun mengenai kenaikan produksi guna menahan kenaikan harga minyak dunia. "Sepertinya sangat sulit, bahwa menaikkan batas produksi akan memberi pengaruh yang banyak pada harga," kata Menteri perminyakan Libya Fathi Hamed Ben Shatwan seperti dilansir AFP. Hal senada juga dikatakan oleh Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh bahwa saat ini belum perlu untuk menambah minyak di pasar karena tidak ada kekurangan pasokan. Sedangkan Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Nuaimi sekali lagi menegaskan bahwa hal yang penting bagi pasar saat ini adalah bukanlah putusan resmi tentang batasan produksi, namun jumlah yang sesungguhnya dari produksi minyak negara-negara OPEC, kecuali Irak. Menurut al-Nuaimi, OPEC tidak bisa berbuat banyak karena pasar lebih banyak dikendalikan oleh ketakutan daripada faktor fundamental. "OPEC telah melakukan kewajibannya, tapi OPEC bukan hanya satu-satunya pemain dan orang ingin mengambil keuntungan," tegasnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads