Pengusaha Ajak Buruh Perangi Inefisiensi

Pengusaha Ajak Buruh Perangi Inefisiensi

- detikFinance
Selasa, 13 Nov 2012 17:20 WIB
Pengusaha Ajak Buruh Perangi Inefisiensi
Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai kisruh antara buruh dan pengusaha mulai melenceng dari substansi persoalan. Hipmi menilai, baik buruh dan pengusaha sebenarnya tidak perlu dibenturkan satu dengan yang lain. Sebab, keduanya memiliki kepentingan yang sama yakni keberlanjutan industri nasional.

Hipmi menghimbau agar buruh dan pengusaha memerangi musuh bersama mereka yakni inefisiensi yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.

β€œJadi persoalannya itu jangan melebar seakan-akan pengusaha sama buruh mau head to head atau dibenturkan. Common enemy kita itu inefisiensi atau ekonomi biaya tinggi,” ujar Ketua Hipmi Reza Rajasa dalam siaran persnya, Selasa (13/11/2012)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Reza mengatakan inefisiensi itu terjadi dari hulu sampai hilir dalam industri nasional. β€œMulai dari soal izin usaha ada faktor birokrasinya, energi belum sepenuhnya pro industri, distribusi ada faktor regulasi dan logistik, infrastruktur, cost of fund dari perbankan, hingga pemasaran,” ujar Reza.

Dijelaskan Reza, terdapat tiga pihak yang selalu menjadi korban dalam inefisiensi ini yakni pengusaha, buruh dan konsumen.

β€œPengusaha margin semakin kecil bahkan merugi, konsumen menerima kenaikkan harga, dan buruh kesejahteraannya terancam,” pungkas Reza.

Sebab itu Reza menghimbau ke semua pihak agar kembali duduk bersama bagaimana memerangi inefisiensi ini. β€œPersoalannya di sini. Penyelesaiannya di sini. Kalau ini belum beres, saya kira tahun depan akan muncul lagi masalah serupa. Isunya tetap sama upah buruh tidak cukup. Sedangkan pengusaha makin buntung. Mana ada pengusaha mau usaha terus rugi. Sedangkan buruh harus diperhatikan kesejahteraannya,” papar Reza.

Reza pun berharap agar pemerintah melakukan langkah konkrit untuk memerangi ekonomi biaya tinggi misalnya reformasi birokrasi, membasmi pungutan liar, dan mempercepat pembangunan infrastruktur. β€œDalam laporan Doing Business terkait daya saing kita, pilar-pilar ini sangat rawan. Saya khawatir rating kita melorot lagi tahun depan. Kan ini jauh dari semangat kita mendorong peningkatan investasi,” ujar Reza.
(dnl/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads