Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai kisruh antara buruh dan pengusaha mulai melenceng dari substansi persoalan. Hipmi menilai, baik buruh dan pengusaha sebenarnya tidak perlu dibenturkan satu dengan yang lain. Sebab, keduanya memiliki kepentingan yang sama yakni keberlanjutan industri nasional.
Hipmi menghimbau agar buruh dan pengusaha memerangi musuh bersama mereka yakni inefisiensi yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.
“Jadi persoalannya itu jangan melebar seakan-akan pengusaha sama buruh mau head to head atau dibenturkan. Common enemy kita itu inefisiensi atau ekonomi biaya tinggi,” ujar Ketua Hipmi Reza Rajasa dalam siaran persnya, Selasa (13/11/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Reza, terdapat tiga pihak yang selalu menjadi korban dalam inefisiensi ini yakni pengusaha, buruh dan konsumen.
“Pengusaha margin semakin kecil bahkan merugi, konsumen menerima kenaikkan harga, dan buruh kesejahteraannya terancam,” pungkas Reza.
Sebab itu Reza menghimbau ke semua pihak agar kembali duduk bersama bagaimana memerangi inefisiensi ini. “Persoalannya di sini. Penyelesaiannya di sini. Kalau ini belum beres, saya kira tahun depan akan muncul lagi masalah serupa. Isunya tetap sama upah buruh tidak cukup. Sedangkan pengusaha makin buntung. Mana ada pengusaha mau usaha terus rugi. Sedangkan buruh harus diperhatikan kesejahteraannya,” papar Reza.
Reza pun berharap agar pemerintah melakukan langkah konkrit untuk memerangi ekonomi biaya tinggi misalnya reformasi birokrasi, membasmi pungutan liar, dan mempercepat pembangunan infrastruktur. “Dalam laporan Doing Business terkait daya saing kita, pilar-pilar ini sangat rawan. Saya khawatir rating kita melorot lagi tahun depan. Kan ini jauh dari semangat kita mendorong peningkatan investasi,” ujar Reza. (dnl/dru)











































